Platform kerja tim kintone

Perusahaan dan Organisasi

23.Oct.2019 13:13

Mari berbicara mengenai manajer di masa yang akan datang

“Akar kejahatan yang menyebabkan tidak bisa bekerja dengan senang adalah manajer “– sudah saatnya keluar dari pola manajemen periode Showa

Untuk membicarakan “manager di masa yang akan datang”, telah berkumpul Osamu Yamada selaku wakil CEO Cybozu, Ms. Yuki Kamiya sebagai manajer yang saat ini masih aktif bekerja di Isetan Mitsukoshi Ltd., dan Mr. Makoto Hamamatsu selaku founder dan CEO dari ONE JAPAN.

Di episode sebelumnya sudah dibahas mengenai “cara berpikirnya adalah jika berhasil berkat anggota, tetapi jika gagal menjadi tanggung jawab manajer”, “informasi sebaiknya dikeluarkan di tempat yang terbuka”, “jika menggerakkan orang secara paksa akan muncul pemaksaan, sehingga komunikasinya menjadi satu arah”.

Kemudian ketika pembicaraannya sudah mencapai bagian pertengahan, dari Yamada terlontar kata-kata “akar kejahatan yang menyebabkan tidak bisa bekerja dengan senang adalah manajer”.

Berbeda dengan manajemen puncak (top management), manajer berada di posisi yang harus mengambil tindakan dalam kondisi yang sudah disediakan. Kesiapan seperti apa yang harus dimiliki oleh manajer di masa yang akan datang?

Manajer adalah sosok yang memaksakan “inilah nilai-nilai yang benar di perusahaan kita”

  • Makoto Hamamatsu

    Saya sudah membaca naskah buku yang akan diterbitkan oleh Mr. Yamada! Pasti akan laku.

  • Osamu Yamada

    Hahaha.. Terima kasih. Mr. Hamamatsu juga menulis tentang team work organisasi di buku『Kerja bisa menjadi lebih menyenangkan  Dokumenter Reformasi Perusahaan oleh Generasi Muda Perusahaan Besar di 50 Perusahaan Sebanyak 1200 Orang』ya. Saya ingin tahu bagian mana yang sama dengan buku saya, sehingga bisa dijelaskan lagi isi bukunya seperti apa?

  • Makoto Hamamatsu

    Awalnya tema buku yang terpikirkan adalah “membuat perusahaan menjadi menyenangkan”, tetapi seperti yang dikatakan oleh Mr. Aono dari Cybozu, “perusahaan” bukanlah sesuatu yang nyata.

    Kalau begitu, saya berpikir kembali bahwa lebih penting memikirkan bagaimana caranya agar bisa bekerja dengan menyenangkan.

  • Makoto Hamamatsu

    Meskipun ada alternatif untuk berhenti dari perusahaan, tetapi banyak juga orang yang masih bertahan sambil memiliki perasaan yang mengganjal seperti merasa terisolasi di lingkungan kerjanya, atau mengatakan keburukan atasannya.

    Tetapi jika memang akan bertahan di perusahaan, tidak ada artinya mengatakan keburukan orang lain. Saya mengusulkan untuk melakukan hal yang menarik di pekerjaan dan bekerja dengan senang .

  • Osamu Yamada

    Betul, betul.

  • Makoto Hamamatsu

    Buku tersebut merupakan kumpulan kejadian nyata dari perjuangan 50 orang yang bekerja dengan senang, seperti permasalahan tentang “bagaimana caranya membuat pekerjaan menjadi menarik”, “bagaimana caranya agar bisa memberikan nilai lebih kepada pelanggan”, kemudian disertakan juga solusi terhadap hal tersebut dan apa yang dirasakan setelah melewatinya.

  • Osamu Yamada

    Menurut saya, akar kejahatan yang menyebabkan tidak bisa bekerja dengan senang adalah manajer.

  • Makoto Hamamatsu

    Hmmm? Maksudnya bagaimana?

  • Osamu Yamada

    Memang bisa juga disebabkan oleh manajemen puncak, tetapi pada kenyataannya orang yang paling sering berkomunikasi di lokasi kerja adalah manajer. Suasana organisasi benar-benar bisa berubah tergantung dari bagaimana orang tersebut berperilaku, memahami, dan bertindak.

    Pada akhirnya yang namanya manajer itu hanya memaksakan “inillah nilai-nilai yang benar di perusahaan kita” dengan kata-kata manajemen atau pendidikan.

    Makanya saya jadi bertanya, “apakah secara manajemen hal ini dibenarkan?”

  • Makoto Hamamatsu

    Begitu ya…

  • Osamu Yamada

    Ditambah lagi, saat ini cara bekerja juga sudah bervariasi dan fokus kepada masing-masing orang. Sulit untuk memaksakan agar memiliki nilai-nilai yang sama dengan mengatakan “inilah cara berpikir perusahaan kita”, padahal ada bermacam-macam orang.

    Agar masing-masing orang bisa bekerja dengan semangat di masa yang akan datang, manajemen tidak boleh memiliki nilai-nilai yang sama seperti periode Showa.

  • Makoto Hamamatsu

    Manusia akan semakin beragam, sehingga manajemennya juga akan semakin sulit.

  • Osamu Yamada

    Akhirnya jadi tidak ada yang bisa melakukannya. Menurut saya pekerjaan yang paling banyak di dunia adalah manajer, tetapi menjalankan manajemen itu benar-benar sulit.

  • Yuki Kamitani

    Di toko buku juga banyak buku tentang manajer ya.

  • Osamu Yamada

    Betul, betul. Semua orang merasa kesulitan. Di saat seperti itu kebetulan ada yang mengajak “Mr. Yamada, apakah anda mau menerbitkan buku?”, sehingga di kesempatan ini saya memikirkan kembali manajer itu seharusnya seperti apa, dan dari situ perencanaan untuk menerbitkan buku dimulai.

“Tidak berjalan dengan baik karena ketidakmampuan manajer?” Jika tidak bisa memutuskan, penting untuk menggunakan “kewajiban bertanya” hingga tuntas

  • Yuki Kamitani

    Setelah membaca naskah buku Mr. Yamada, saya bisa menemukan jawaban terhadap kesulitan yang saya hadapi setelah menjadi manajer.

Yuki Kamitani. Setelah lulus kuliah bekerja di Isetan Mitsukoshi Ltd. Selama 2 tahun bekerja di bagian baju wanita, setelah itu menjadi assistant buyer untuk baju wanita selama 3 tahun, kemudian pindah ke Department Store Corporate Headquarter di departemen strategi merchandising divisi perencanaan merchandising. Saat ini menjabat sebagai manajer di divisi digital bagian business baru CARITE. Setelah bertemu dengan penanggung jawab Fujitsu dari ONE JAPAN, yang CEO nya adalah Mr. Hamamatsu, mulai melakukan percobaan verifikasi layanan penyewaan baju dress di toserba Mitsukoshi yang berada di Ginza pada bulan Agustus 2018.

  • Osamu Yamada

    Saya senang sekali. Misalnya hal seperti apa?

  • Yuki Kamitani

    Dalam menjalankan layanan penyewaan baju dress “CARITE” yang saya tangani saat ini, saya perlu memutuskan hal yang berkaitan dengan investasi bersama dengan manajemen puncak.

    Di antara saya dengan manajemen puncak ada beberapa orang atasan, sehingga saya bingung bagaimana caranya agar bisa menjalin komunikasi dengan baik dan membuat kemajuan.

  • Osamu Yamada

    Begitu ya.

  • Yuki Kamitani

    Pada awalnya tidak berjalan dengan lancar. Saya pikir penyebabnya adalah kemampuan saya sebagai manajer penanggung jawab.

    Tetapi setelah membaca buku, saya merasa bahwa yang kurang adalah pemikiran untuk “membuat orang yang berada di atas saya mau bergerak”.

    Jika ada hal yang tidak dimengerti atau tidak dapat diputuskan, penting untuk menggunakan “kewajiban bertanya” hingga tuntas seperti menanyakan “apakah ada masalah dalam memberikan keputusan?”.

  • Makoto Hamamatsu

    “kewajiban bertanya” itu kata-kata yang bagus ya.

  • Yuki Kamitani

    Saya merasa senang setelah mengetahui tidak perlu untuk memutuskannya sendiri dan tidak hanya saya yang bersalah, meskipun saya sebagai manajer.

    Saya merasa jika manajer yang ada di dunia ini bisa mengerti pemikiran Mr. Yamada, tentunya bisa lebih tegas dalam menjalankan pekerjaannya secara efektif.

  • Osamu Yamada

    Syukurlah jika pesan saya bisa tersampaikan kepada Ms. Kamiya yang sedang menjabat sebagai manajer.

Bawahan harus mendekat ke atasan, dan atasan harus mendekat ke bawahan

  • Osamu Yamada

    Menyampaikan hal yang tidak diketahui dengan “tidak tahu” juga merupakan bentuk dari berbagi informasi. Penting juga untuk membagikan ke sekelilingnya bahwa sebagai manajer, “saya tidak bisa melakukan hal ini”.

    Dengan begitu, mungkin akan ada orang yang mahir dalam melakukan pekerjaan tersebut dan menunjukkan bahwa dirinya “mampu”.

  • Makoto Hamamatsu

    Kalau semuanya bisa memahami seperti itu tidak apa-apa. Tetapi apakah tidak akan ada bawahan atau anggota lainnya yang menganggap dalam hati bahwa “orang itu sering sekali bertanya ya”, atau “orang itu tidak berusaha tetapi bertanya terus”?.

    Secara pribadi saya merasa bahwa bawahan juga harus memahami kondisi manajer, sehingga dari kedua belah pihak harus saling mendekat.

Makoto Hamamatsu. Lahir di prefektur Kyoto pada tahun 1982. Setelah lulus dari universitas, diterima di Panasonic pada tahun 2006. Kemudian setelah berkecimpung di bagian pemasaran luar negeri dan perencanaan bisnis di India, pindah ke kantor pusat di departemen strategi sumber daya manusia. Menangani strategi rekrutmen grup dan pengembangan sumber daya manusia. Di tahun 2012 mendirikan “One Panasonic” yang merupakan organisasi volunteer yang terdiri dari anak muda, untuk mengaktifkan organisasi dan menjalin hubungan secara horizontal, vertikal, diagonal, dan dengan pihak di luar perusahaan. Di tahun 2016 dipilih sebagai karyawan sementara di perusahaan start up pertama (PATH Corporation ) milik perusahaan yang sama. Setelah itu berkecimpung di departemen peralatan listrik rumah tangga di perusahaan yang sama untuk mengembangkan divisi peralatan listrik rumah tangga IoT. Saat ini sebagai co-founder dan co-CEO dari ONE JAPAN.

  • Osamu Yamada

    Seharusnya begitu ya. Tahu buku yang berisi rangkuman pola pikir Konosuke Matsushita yang berjudul 『Filosofi Atasan』 dan 『Filosofi Bawahan』? Dulu ketika ada orang baru yang masuk, saya suruh mereka untuk membacanya.

  • Makoto Hamamatsu

    Orang baru juga harus membaca『Filosofi Atasan』?

  • Osamu Yamada

    Iya. Kemudian atasannya juga harus membaca『Filosofi Bawahan』.

    Dengan dibaca oleh kedua belah pihak, baru akan ketahuan bahwa “menjadi atasan itu cukup berat ya”, “ternyata bawahan menganggapnya seperti ini”.

  • Makoto Hamamatsu

    Itu bagus ya. Sebaiknya orang baru juga menerima pelatihan manajerial juga ya?

Membuat anggotanya sulit keluar dengan mengikatnya dengan rantai dan meninggikan pagar bukanlah pekerjaan seorang manajer

  • Makoto Hamamatsu

    Apakah Mr. Yamada juga menyemangati dan meningkatkan motivasi para anggota?

  • Osamu Yamada

    Menurut saya, gaya “api unggun” adalah gaya yang ideal bagi manajer.

    Yang penting manajer berada di tengah membuat api, kemudian menyanyi dan menari terus-menerus.

  • Makoto Hamamatsu

    Begitu ya.

  • Osamu Yamada

    Manajer membuat api dengan harapan “kami memiliki tujuan seperti ini dan akan dilakukan dengan cara seperti ini”. Kemudian menyanyi terus-menerus, tidak peduli orang yang berkumpul ada banyak atau sedikit.

    Jika semua orang pergi meninggalkannya, itu berarti apinya memang hanya sebatas itu saja, tetapi semakin bagus hal tersebut, maka yang berkumpul juga akan semakin banyak.

  • Makoto Hamamatsu

    Jadi begitu ya.

  • Osamu Yamada

    Merayu anggota agar masuk ke dalam lingkaran atau mengikatnya dengan rantai dan meninggikan pagar agar sulit keluar bukanlah pekerjaan manajer.

    Ditambah lagi, setelah tugasnya selesai, apinya matipun tidak apa-apa.

  • Makoto Hamamatsu

    Karena tujuannya sudah tercapai ya?

  • Osamu Yamada

    Betul. Tetapi meskipun sudah tidak ada api, ada perusahaan yang memaksakan “siapa yang akan menyalakan api?” hanya karena masih ada pagar yang tersisa. Akhirnya dibangunlah bisnis baru seperti penjahat yang menyalakan api, dan manajemen puncak yang memadamkan apinya.

  • Yuki Kamitani

    Betul, betul. Ada yang seperti itu.

  • Osamu Yamada

    Oleh karena itu, yang penting adalah apa yang akan dilakukan oleh manajer bersama dengan anggota tim yang ada saat ini.

    Jika memiliki pikiran “seharusnya orang ini menjadi begini” atau “akan kubuat tumbuh”, maka manajer tersebut tidak tahu diri. Karena itu adalah penyesalan besar dari apa yang telah dilakukan oleh dirinya.

Osamu Yamada. Wakil CEO Cybozu dan CEO Cybozu USA(kintone Corporation). Tahun 1992 diterima di The Industrial Bank of Japan. Di tahun 2000 pindah ke Cybozu dan menjadi penanggung jawab yang menangani keuangan, personalia dan departemen hukum, sekaligus membentuk aturan kepersonaliaan dan aturan pelatihan pendidikan. Mulai tahun 2014 merencanakan pelebaran bisnis secara global, kemudian untuk mendirikan badan hukum lokal di Amerika, menetap di San Francisco hingga saat ini.

  • Osamu Yamada

    Kelihatannya yang penting adalah bukannya menggerakkan orang yang akan berpartisipasi, tetapi melanjutkan api unggun yang membuat orang lain merasa “bagus ya!”.

Jika tidak berjalan dengan baik, cukup dengan “Maaf ya, perusahaan!”

  • Yuki Kamitani

    Memikirkan apa yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang telah diberikan ya.

  • Osamu Yamada

    Mahyong dan game juga sama. Mengupayakan yang terbaik dari kartu yang telah dibagikan.

    Bagaimana caranya membuat hidup menjadi senang itu sama seperti game. Sudah cukup jika semua orang bisa menikmati game tersebut.

    Kalau tidak berjalan dengan baik juga tidak apa-apa. “Maaf ya perusahaan!”. Saya tidak bekerja dengan baik untuk Cybozu.

  • Yuki Kamitani

    Seperti nomad (orang yang bekerja dengan peralatan IT seperti laptop dsb., dan berpindah-pindah tempat kerjanya, tidak di dalam kantor) ya?

  • Osamu Yamada

    Iya. Jika tidak berhasil, lebih baik pergi ke tempat lain yang membutuhkannya di dunia ini.

    Tetapi saat ini membuat api adalah kegiatan yang sangat menarik dan saya ingin membuat api itu menjadi lebih besar, sehingga saya masih berada di Cybozu.

  • Makoto Hamamatsu

    Jika banyak orang yang berkumpul, terkadang manajer dijadikan seperti dewa.

    Bagaimana caranya agar partisipan tidak hanya berserah diri seperti jemaat yang taat tetapi bisa bergerak secara aktif?

  • Osamu Yamada

    Seperti mengulang yang tadi, menurut saya manajer tidak usah memiliki wewenang. Tidak usah memutuskan sesuatu. Hanya menyanyi saja secara terus-menerus.

    Selain itu tidak membuat aturan dan tidak memberikan jawaban yes atau no terhadap pendapat anggota. Karena jika mengatakan sesuatu, akan didewakan.

  • Makoto Hamamatsu

    Jadi begitu ya.

  • Osamu Yamada

    Sebenarnya dunia ini juga berubah dengan adanya organisasi yang memiliki ketaatan terhadap seseorang, dan jika ingin memperbesar organisasi, maka ingin memiliki wewenang.

    Jika diri sendiri ikut bergerak, organisasi menjadi lebih terkontrol sehingga perusahaan bisa menjadi besar dengan cepat dan efektif. Tetapi sebenarnya itu adalah ego dari orang tersebut.

    Jika semua orang bisa bahagia dengan mengikuti ego tersebut tidak apa-apa. Tetapi saat ini banyak orang yang tidak merasa seperti itu.

    Maka dari itu terjadilah pergeseran paradigma, atau mungkin kita tiba di zaman yang harus meninjau ulang cara manajemen atau pengelolaan perusahaan.

  • Teks : Riho Nakamori Penyunting : Noto Matsuo Dokumentasi : Nanako Ono Perencanaan : Yuka Akashi

SNS Share