Platform kerja tim kintone

Perusahaan dan Organisasi

27.Oct.2019 20:15

Keberanian untuk Dibenci

Setelah turnover mencapai 28%, saya menyadari bahwa “karyawan berhenti dari perusahaan untuk mewujudkan idealismenya” -Ichiro Kishimi penulis 『Keberanian untuk Dibenci』& Yoshihisa Aono dari Cybozu

Buku 『Keberanian untuk Dibenci』yang diterbitkan pada tahun 2013 mencetak bestseller hingga menjadi sebuah fenomena sosial. Dengan metode dialog, buku ini menjelaskan tentang psikologi individual yang berasumsi bahwa “permasalahan yang dimiliki oleh manusia semuanya berhubungan dengan masalah yang terjadi pada hubungan antar manusia”, sehingga dengan memperbaiki hubungan antar manusia, orang bisa hidup dengan bahagia. Hingga saat ini buku ini masih memberikan pengaruh kepada banyak orang.

Bukankah materi yang ditulis pada buku 『Keberanian untuk Dibenci』 sama dengan aktivitas yang selama ini dilakukan oleh Cybozu? Salah seorang karyawan Cybozu menyadari hal tersebut, sehingga kali ini kami merencanakan untuk mengadakan acara di internal kantor dalam bentuk dialog antara Yoshihisa Aono selaku CEO Cybozu dengan Mr. Ichiro Kishimi sebagai penulis buku『Keberanian untuk Dibenci』.
Apa yang menjadi titik persamaan antara psikologi individual dengan pola pikir Cybozu? Dan bagaimana pendapat Mr. Kishimi terhadap hal tersebut? Tentunya dengan membaca artikel ini, anda semua akan semakin memahami isi buku 『Keberanian untuk Dibenci』. Di sini kami akan menyampaikannya dalam 4 kali, dengan cara membaginya menjadi bagian pertama sampai bagian ke-4.

Meskipun pernikahannya ditentang oleh orang tua, “asalkan pada akhirnya diri kita menjadi bahagia, itulah yang disebut dengan berbakti kepada orang tua”

  • Yoshihisa Aono

    Mr. Kishimi, terima kasih sekali karena sudah menyempatkan diri untuk datang jauh-jauh dari Kyoto ke kantor kami.

    Acara hari ini terwujud berkat Ms. Yuka Ohara dari bagian penyunting Cybozu style yang sangat terkesan setelah membaca buku『Keberanian untuk Dibenci』hingga membuat hidupnya berubah, dan juga dari pemikiran kami yang merasa bahwa,  bukankah apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh Cybozu mendekati psikologi individual?

    Saya sendiri juga merasa bahwa ini adalah kesempatan berharga untuk menanyakan hal-hal yang terus-menerus saya pikirkan setelah membaca buku anda.

  • Ichiro Kishimi

    Saya juga mohon bantuan dan kerjasamanya.

  • Yoshihisa Aono

    Sepengetahuan saya, buku『Keberanian untuk Dibenci』adalah buku yang menjelaskan tentang “Filosofi yang membuat orang bahagia”. Buku ini diterbitkan sekitar 3 tahun yang lalu. Sampai saat ini sudah terjual berapa banyak, ya?

  • Ichiro Kishimi

    Sudah terjual sebanyak 1,6 juta eksemplar. Kemudian buku lanjutannya yang berjudul 『Keberanian untuk Menjadi Bahagia』terjual sebanyak 460 ribu eksemplar. Ditambah lagi, di Korea buku ini menjadi bestseller dan terjual sekitar 1,25 juta eksemplar.

  • Yoshihisa Aono

    Wah, baik di Jepang maupun di Korea penjualannya melebihi satu juta eksemplar, ya! Hari ini (1 Februari 2017) saya cek di ranking bestseller Amazon, buku『Keberanian untuk Dibenci』menduduki ranking 6. Dan ranking di atasnya hanya ada photo album milik AKB (sambil tertawa)

    Meskipun sudah lebih dari 3 tahun, tetapi bisa berada di urutan ini menunjukkan betapa banyak orang yang menyukai buku tersebut, ya?

  • Ichiro Kishimi

    Terima kasih.

Mr. Ichiro Kishimi. Seorang filsuf. Lahir di Kyoto pada tahun 1956 dan saat ini menetap di Kyoto. Lulus dari program doktoral di Graduate School of Letters universitas Kyoto. Sambil memperdalam keahliannya di bidang filsafat (filsafat eropa kuno, terutama filsafat Plato) beliau juga meneliti psikologi individu sejak tahun 1989. Setelah karyanya yang sebelumnya yang berjudul 『Keberanian untuk Dibenci』 diterbitkan dan menjadi bestseller di masing-masing negara serta menjadi buku klasik baru bagi psiklogi individual, beliau aktif melakukan seminar dan konseling kepada “pemuda” di dalam dan luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Adler di masa hidupnya, untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Di buku terjemahannya ada 『Psikologi Makna dari Kehidupan (What Life Should Mean to You)』, dan 『Psikologi Individual (The Sience of Living)』, serta menulis buku 『Psikologi Individual bagi Pemula』. Di buku『Keberanian untuk Dibenci』dan 『Keberanian untuk Menjadi Bahagia』, beliau menangani draft buku.

  • Yoshihisa Aono

    Apakah ada alasan tertentu sehingga buku anda laris di Korea?

  • Ichiro Kishimi

    Anak muda di Korea lebih menahan diri dibandingkan anak muda di Jepang. Saya sering menerima pertanyaan dari anak muda di Korea, yang jarang ditanyakan oleh anak muda di Jepang.

    Pertanyaan itu adalah “Bagaimana caranya agar bisa berbakti kepada orang tua?”.

  • Yoshihisa Aono

    Begitu ya…. Apa karena budaya konfusianisme-nya masih kuat, ya?

  • Ichiro Kishimi

    Betul. Tetapi di sisi lain, tentu saja mereka ingin “menjalani kehidupannya sendiri”. Mungkin di saat mereka merasa terjepit di antara kedua pilihan tersebut, pola pikir psikologi individual jadi sangat mengena di hatinya.

  • Yoshihisa Aono

    Apa jawaban yang Mr. Kishimi berikan kepada anak muda di Korea yang memiliki permasalahan tersebut?

  • Ichiro Kishimi

    Saya menjawabnya dengan “Asalkan pada akhirnya diri kita menjadi bahagia, itulah yang disebut dengan berbakti kepada orang tua”. Misalnya, pernikahan kita tidak disetujui oleh orang tua.

    Ketika kita melawan dan tetap menikah, akan muncul gesekan sementara dengan orang tua. Tetapi jika setelah 5 atau 10 tahun kemudian orang tua bisa merasa “Syukurlah sekarang semuanya baik-baik saja ya, meskipun waktu itu kami menentangnya”, maka itulah yang dinamakan dengan berbakti kepada orang tua.

  • Yoshihisa Aono

    Oh, begitu ya.

  • Ichiro Kishimi

    Di dalam buku ada istilah “pemisahan tugas”, yaitu semarah apapun orang tua karena anak menikah dengan pasangan yang tidak diharapkannya, sebenarnya itu adalah tugas untuk orang tua.

    Jika memang benar-benar tidak setuju, hanya bisa mengatakan “Baiklah, terima kasih atas hubungan yang pendek ini”.

  • Yoshihisa Aono

    Begitu, ya?

  • Ichiro Kishimi

    Ada juga istilah “tidak berbakti kepada orang tua juga merupakan bakti kepada orang tua”. Orang tua akan merasa sehat ketika harus mengurusi anaknya, tetapi ketika merasa “anak ini sudah sudah bisa tanpa saya”, mendadak akan menjadi tua.

  • Yoshihisa Aono

    Hahaha!

Bukannya “mengurung diri karena khawatir”, tetapi “perasaan khawatir muncul karena tidak ingin pergi keluar”

  • Yoshihisa Aono

    Dibandingkan buku『Keberanian untuk Dibenci』, buku saya yang berjudul 『Hanya Memikirkan tentang Timyang diterbitkan pada tahun 2015 hanya terjual di atas 10 ribu eksemplar. Ini pun bisa dikatakan sebagai hasil yang luar biasa.

    Sepengetahuan saya, buku『Keberanian untuk Dibenci』adalah buku yang menjelaskan tentang “filosofi yang membuat orang bahagia”. Sedangkan buku 『Hanya Memikirkan tentang Tim』adalah buku yang mengangkat tema “bagaimana caranya agar bisa membentuk tim yang bahagia?”.

    Cybozu adalah perusahaan yang membuat perangkat lunak yang disebut “groupware”, namun yang sering diangkat oleh media adalah “performa perusahaannya naik, tetapi turnover-nya rendah”.

  • Ichiro Kishimi

    Saat ini turnover-nya mencapai berapa persen?

  • Yoshihisa Aono

    Kurang dari 4%. Umumnya orang yang berhenti dari perusahaan IT mencapai 10 sampai 20 persen, sehingga mereka merasa “Ada apa dengan perusahaan ini?”.

  • Ichiro Kishimi

    Begitu, ya.

  • Yoshihisa Aono

    Sebenarnya yang menyebabkan rendahnya turnover adalah metode yang kami terapkan di internal kantor, di mana metode tersebut mirip dengan psikologi individual. Oleh karena itu mungkin kami telah mengimplementasikan psikologi individual tanpa disadari.

  • Ichiro Kishimi

    Benarkah begitu? Dalam hal apa?

  • Yoshihisa Aono

    Pertama dari “teleologi”nya. “Kita semua hidup mengikuti suatu tujuan”. Menurut saya ini adalah akar dari psikologi individual.

    Ketika membaca buku anda, yang membuat saya sangat terkejut adalah bagian yang mengatakan “orang yang mengurung diri memiliki rasa khawatir karena tidak ingin pergi ke luar”. Biasanya terbalik, kan?

    Saya pikir “karena ada rasa khawatir jadi tidak ingin pergi ke luar”, tetapi ternyata “adanya tujuan untuk tidak mau keluar yang menimbulkan rasa khawatir”.

  • Ichiro Kishimi

    Apakah anda tahu mengapa orang yang mengurung diri menghindar untuk pergi ke luar?

  • Yoshihisa Aono

    Mungkin mereka merasa ada sesuatu yang tidak baik sedang menunggu mereka?

  • Ichiro Kishimi

    Jika pergi ke luar, mereka harus berhubungan dengan orang. Orang yang berpikir bahwa dunia luar berisi orang-orang yang mengerikan, pasti tidak mau ke luar.

    Satu lagi yaitu jika berada di rumah akan mendapatkan perhatian. Orang tua dari anak yang mengurung diri akan mengatakan “Ayo, pergilah ke sekolah”, atau “Kelihatannya sudah saatnya untuk kembali bekerja” karena khawatir. Sehingga dirinya bisa menjadi pusat perhatian di keluarga. Tetapi jika di luar, tidak ada yang memperhatikannya.

  • Yoshihisa Aono

    Betul juga, ya.

  • Ichiro Kishimi

    Meskipun begitu, kita tidak mungkin menolak untuk pergi ke luar tanpa suatu alasan. Anak saya juga suatu hari pernah mengatakan tidak mau pergi ke sekolah. Jika begitu, tentu saja orang tuanya harus memberi tahu pihak sekolah, dan saya mengatakannya seperti ini kepada guru. “Hari ini anak saya mengatakan tidak masuk sekolah”.

    Saya tidak mengatakan “saya meliburkannya”, karena bukan saya yang menginginkan untuk tidak masuk sekolah.

  • Yoshihisa Aono

    Tetapi, gurunya tidak bisa menerimanya begitu saja, kan?

Yoshihisa Aono. Lahir pada tahun 1971 di kota Imabari, prefektur Ehime. Setelah lulus dari fakultas teknik jurusan sistem informasi di universitas Osaka, beliau sempat bekerja di Matsushita Electric Works (saat ini berganti nama menjadi Panasonic), kemudian mendirikan Cybozu di kota Matsuyama, prefektur Ehime di bulan Agustus tahun 1997. Mulai bulan April 2005 hingga saat ini menjabat sebagai CEO. Melakukan perubahan pada gaya kerja di dalam perusahaan dan berhasil mengurangi turnover menjadi 1/6, serta sebagai bapak 3 anak mendapatkan cuti merawat anak yang ke-3 kalinya. Selain itu, mulai tahun 2011 melakukan cloud computing system pada bisnisnya. Menjabat sebagai external advisor untuk project reformasi cara kerja di Kementerian Internal Affairs dan Komunikasi, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan, Kementerian Ekonomi, Kantor Kabinet, dan Kabinet Sekretariat, serta wakil ketua CSAJ (Computer Software Association of Japan). Penulis buku 『Bisa sedikit !』(Bunshun Shinsho),『Hanya Memikirkan tentang Tim』(Diamond Inc.)..

  • Ichiro Kishimi

    Tentu saja saya ditanya alasannya. Ketika saya menanyakannya ke anak, jawabannya adalah “perutnya sakit”. Oleh karena itu, saya menyampaikan ke guru bahwa “anak saya mengatakan bahwa perutnya sakit, sehingga tidak masuk sekolah”.

    Jika hal ini diamati dari teleologinya, bukannya “tidak masuk sekolah karena sakit perut”, tetapi ada tujuan untuk “tidak berangkat sekolah”, sehingga untuk membenarkan hal tersebut muncullah penyebabnya, yaitu “perutnya sakit”.

  • Yoshihisa Aono

    Hubungan sebab-akibatnya diurutkan secara terbalik, ya? Jika pemikirannya seperti itu, kelihatannya dunia ini jadi tampak berbeda.

  • Ichiro Kishimi

    Jika meminjam istilahnya Adler, ini disebut sebagai “penampakan kausalitas”. Adalah suatu kesalahan jika mengatakan “ada kejadian seperti ini di masa lalu, sehingga saat ini saya sulit untuk menjalankan hidup.

    Meskipun mengalami kejadian yang sama, bukan berarti semua menjadi orang yang sama, kan? Kita bisa mengetahuinya jika melihat beberapa orang anak. Anak yang lahir dari orang tua yang sama dan dibesarkan di lingkungan yang hampir sama pun memiliki sifat yang berbeda-beda. Meskipun ada yang mengatakan “saya mengalami kekerasan dari orang tua ketika masih kecil, sehingga saat ini kondisi saya hancur”, tetapi ada juga anak yang tetap tumbuh secara normal.

    Kita tiada habisnya untuk berusaha mengaitkan sebab dan akibat dengan “penampakan kausalitas” yang palsu.

  • Yoshihisa Aono

    Mungkin begitu, ya. Meskipun ada hal-hal yang sulit untuk dipahami juga (sambil tertawa)

Metode Cybozu style juga mendorong untuk beralih dari “etiologi” menjadi “teleologi”

  • Yoshihisa Aono

    Menurut saya, “teleologi” di psikologi individual mirip dengan pola pikir dasar Cybozu, yaitu “orang akan bertindak menuju idealismenya”.

    Sebenarnya saya bisa memiliki pemikiran ini ketika turnover di Cybozu mencapai titik tertinggi, yaitu sebesar 28% di tahun 2006 dan saya kebingungan dalam memikirkan manajemen.

  • Ichiro Kishimi

    O, ya?

  • Yoshihisa Aono

    Banyak orang yang mengudurkan diri dan saya merasa “kenapa sih, pada berhenti!”, tetapi suatu saat saya menyadarinya. “Orang mengundurkan diri karena dengan mengundurkan diri bisa mewujudkan idealismenya”.

    Karena memiliki tujuan untuk mewujudkan idealismenya, mengambil tindakan mengundurkan diri. Kalau begitu, jika idealisme tersebut bisa dikelola dengan baik, mungkin mereka bisa berpikir “mari wujudkan idealisme tersebut di sini”.

  • Ichiro Kishimi

    Begitu, ya.

  • Yoshihisa Aono

    Dari situ terciptalah “metode penyelesaian masalah ala Cybozu style”. Metode ini diciptakan agar dapat berkonsentrasi pada tugas yang bisa dilakukan oleh diri sendiri untuk mencapai idealismenya, dengan membedakan antara kenyataan, idealisme, penyebab dan tugas. Saya meminta mereka untuk membuat framework untuk mengisi bagian yang kosong.

    Penyebabnya bisa bermacam-macam, tetapi saya memintanya untuk memikirkan “pada akhirnya idealisme apa yang ingin dicapai”, dan langkah apa yang harus diambil untuk mencapainya. Dengan kata lain, mendorongnya untuk beralih dari “etiologi” menjadi “teleologi”

  • Ichiro Kishimi

    Konselor psikologi individual akan bertanya “Anda ingin bagaimana?”, “Anda ingin menjadi seperti apa?” kepada orang yang datang untuk berkonsultasi.

    Jika jawabannya “Saat ini saya tidak bisa melakukan ini”, hampir tidak ada artinya untuk menganalisa penyebabnya. Jika penyebabnya ada di masa lalu, penyebab tersebut tidak dapat dihilangkan selama tidak menggunakan mesin waktu.

  • Yoshihisa Aono

    Betul sekali.

  • Ichiro Kishimi

    Orang yang datang berkonsultasi ingin agar ceritanya di masa lalu didengarkan. Misalnya jika orang tersebut “bermasalah dengan mertuanya”, masa lalu yang dapat ditanyakan adalah “Kemarin, komunikasi seperti apa yang telah anda lakukan dengan ibu mertua?”

    Daripada menanyakan hal seperti itu, konselor akan menanyakan “Ke depannya, anda ingin memiliki hubungan seperti apa dengan ibu mertua?”. Karena mendengarkan cerita di masa lalu sebanyak apapun, tidak akan menyelesaikan masalah.

  • Yoshihisa Aono

    Yang penting adalah membedakan antara “penyebab”, “idealisme dan tujuan” dengan jelas, kemudian menentukan akan fokus di mana.

  • Ichiro Kishimi

    Jika tujuannya telah diketahui, orang bisa memikirkan apa yang dapat dilakukan saat ini untuk mewujudkan hal tersebut.

Tidak mau belajar adalah “tugas untuk anak”. Penanganan terbaik adalah orang tua tidak ikut campur sama sekali terhadap hal tersebut.

  • Yoshihisa Aono

    Hal ini akan terkait dengan “pemisahan tugas”. Kita harus membagi dengan jelas mana yang menjadi tugas untuk diri kita dan tugas untuk orang lain.

    Di buku『Keberanian untuk Dibenci』tertulis hal-hal seperti mempercayai orang lain adalah tugas kita, sedangkan bagaiman orang lain bersikap adalah tugas orang lain, sehingga lupakan lah.

  • Ichiro Kishimi

    Karena kita bisa mempercayai orang lain, tetapi kita tidak akan tahu apakah orang lain juga akan mempercayai kita.

  • Yoshihisa Aono

    Memang betul, tetapi kita seringkali berharap orang lain juga percaya kepada kita.

  • Ichiro Kishimi

    Kita bisa menyukai orang lain, tetapi apakah orang lain juga menyukai kita, tidak ada yang tahu.

  • Yoshihisa Aono

    Terutama dalam percintaan, apakah orang yang kita sukai juga menyukai kita, menjadi hal yang membuat kita penasaran.

  • Ichiro Kishimi

    Di dunia ini ada 2 hal yang tidak dapat dipaksakan. Yang pertama adalah “cintailah saya”. Yang satunya lagi adalah “hormatilah saya”.

    Pemimpin perusahaan mungkin memiliki karyawan yang menghormatinya. Tetapi itu terjadi karena pimpinan tersebut sudah berjuang, sehingga bawahannya menghormatinya, dan itu merupakan tugas lawan kita.

  • Yoshihisa Aono

    Yang penting membedakannya ya. Di buku juga tertulis bahwa itu adalah “pintu masuk untuk berhubungan dengan orang lain”.

  • Ichiro Kishimi

    Dalam hubungan orang tua dan anak pun, penting untuk memisahkan antara tugas untuk diri kita dan tugas untuk anak. Ada orang tua yang datang untuk melakukan konseling tentang “anak yang tidak mau sekolah”, tetapi pergi atau tidaknya anak ke sekolah adalah tugas untuk anak. Tidak bisa diputuskan oleh orang tua.

    Jika dijawab begitu, orang tuanya akan bertanya lagi “Kalau begitu, konsultasi dalam hal apa yang bisa dibantu?”. Saya akan menjawab “Jika konsultasinya adalah terkait “cara agar tidak terganggu dengan anak yang ada di rumah” atau “cara agar bisa akrab dengan anak tanpa bertengkar”, saya bisa membantunya.

  • Yoshihisa Aono

    Oo, karena itu semua adalah tugas yang perlu dilakukan oleh orang tua sendiri, ya?

  • Ichiro Kishimi

    Dengan melakukan konseling seperti itu, biasanya hubungan antara anak dan orang tua akan membaik di bimbingan ke-3. Jika orang tua tidak membuka topik pembicaraan tentang sekolah, tidak ada alasan bagi mereka untuk ribut. Tetapi jika orang tuanya mengatakan “Tetapi anak saya masih belum mau pergi ke sekolah”, saya akan memastikan bahwa itu bukan tujuan dari konseling ini.

    Jadi, pertama-tama harus ditentukan terlebih dahulu “apa yang menjadi tujuan dari konseling ini”. Kami menentukan bahwa jika tujuan tersebut tercapai, maka konseling ini akan berakhir. Pergi atau tidaknya anak ke sekolah adalah tugas anak, sehingga tidak bisa dijadikan tujuan dari konseling. Tetapi untuk lebih akrab dengan anak bisa dijadikan tujuan.

  • Yoshihisa Aono

    Begitu, ya.

  • Ichiro Kishimi

    Banyak orang yang berkonsultasi tentang “anaknya yang tidak mau belajar”, tetapi pada dasarnya kita tidak perlu ikut campur dalam tugas untuk anak. Sebenarnya orang tua tidak bisa melakukan apa-apa. Saya tidak bisa mengangkat topik konseling tentang bagaimana caranya agar anak mau belajar.

  • Yoshihisa Aono

    Benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa?

  • Ichiro Kishimi

    Iya. Ibu tidak akan kesulitan meskipun anaknya tidak mau belajar, kan? Yang akan kesulitan adalah anaknya sendiri.

    Sebagian besar permasalahan dalam hubungan antar manusia dimulai dari ikut campurnya orang lain dalam tugas yang seharusnya diselesaikan oleh diri sendiri. Penanganan terbaik terhadap anak yang tidak mau belajar adalah tidak ikut campur sama sekali.

  • Yoshihisa Aono

    Tetapi biasanya orang tua tetap ingin ikut campur, kan?

  • Ichiro Kishimi

    Jika memang ingin ikut campur, tugasnya bisa dirubah menjadi “tugas bersama antara anak dan orang tua”. Orang tua bisa mengajak anak berbicara “Jika melihat kondisimu akhir-akhir ini, kelihatannya tidak pernah belajar, ya? Bisa tidak kalau kita berbicara tentang hal tersebut?”.

    Jika hasilnya adalah anak berkonsultasi, orang tua bisa menanggapinya. Tetapi biasanya anak menolak untuk melakukannya.

  • Yoshihisa Aono

    Hm.. begitu, ya.

  • Ichiro Kishimi

    Tetapi hal ini tidak berlaku untuk atasan dan bawahan di perusahaan. Jika bawahannya sering melakukan kesalahan, atasannya tidak bisa menyelesaikannya dengan “Ini bukan tugas saya, tetapi tugas bawahan saya”.

  • Yoshihisa Aono

    Betul sekali.

  • Ichiro Kishimi

    Maka dari itu, lebih baik menyampaikan kepada bawahannya bahwa sang atasan akan memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugasnya, seperti mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum hasilnya keluar, jika memang memungkinan.

    Tetapi di situ ada kalimat yang tidak boleh diucapkan, yaitu “Kalau dibiarkan saja, kira-kira hasilnya seperti apa ya?”

  • Yoshihisa Aono

    Wah, kelihatannya akan terucap juga (sambil tertawa)

  • Ichiro Kishimi

    Jika mengatakan hal tersebut kepada bawahan, dia akan merasa ditakut-takuti, ditantang dan disindir, sehingga efeknya malah berkebalikan.

    Atau sebaliknya, jika sudah terbangun hubungan antara atasan dan bawahan yang dekat, mengatakan hal seperti itu tidak akan membuat bawahannya merasa ditakut-takuti, ditantang dan disindir.

  • Yoshihisa Aono

    Menarik, ya. “pemisahan tugas” ini dalam metode penyelesaian masalah ala Cybozu style mendekati definisi tentang “penyebab dan tugas ada pada 『tindakan』”.

    Pada akhirnya kita hanya bisa fokus pada “tindakan” yang dapat dilakukan oleh diri sendiri. Dengan begitu, kita tidak terpengaruh terhadap perubahan di luar dan dapat meninjau kembali tindakan yang telah dilakukan, serta bersamaan dengan hal tersebut, fenomena yang tidak terkait dengan tindakan dapat disingkarkan dari diskusi.

  • Ichiro Kishimi

    Begitu, ya.

Bersambung ke bagian ke-2.

  • Teks : Hajime Arahama / Foto : Sushipaku (PAKUTASO) / Penyunting : Yuka Ohara

SNS Share