Platform kerja tim kintone

Perusahaan dan Organisasi

27.Oct.2019 17:44

Kelihatannya di Amerika pun, perusahaan berjalan ke arah yang membuat orang tidak bahagia -CEO Aono & Wakil CEO Yamada

“Mengapa Cybozu mencoba untuk ekspansi ke luar negeri untuk yang ke-2 kalinya?”

Alex sebagai anggota baru dari bagian penyunting Cybozu style yang memiliki misi untuk meyiarkan informasi ke luar negeri, memiliki sebuah pertanyaan yang sederhana.

Dulu Cybozu pernah melakukan ekspansi ke Amerika dan mengalami kegagalan. Tetapi mengapa mencoba lagi untuk ekspansi ke luar negeri?

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut, Alex mengundang Yoshihisa Aono selaku CEO dan Osamu Yamada selaku wakil CEO ke “Cybozu BAR”. Hari ini Alex yang menjadi bartender.

“Meskipun waktunya belum larut, kita tos dulu ya”

Seperti apakah pemandangan di luar negeri yang dikejar oleh kedua orang ini……?

“Internet kan bisa terjual di seluruh dunia”. Ternyata ekspansi pertama ke Amerika berakhir dengan kegagalan

  • Alex

    Sebenarnya, mengapa Cybozu membuka kantor di Amerika pada tahun 2001? Itu merupakan percobaan pertama, ya?

  • Aono

    Sejak awal, 3 orang pendiri Cybozu(*)sama-sama memiliki keinginan yang kuat untuk globalisasi. “Cybozu Office 1” yang pertama kali dibuat sudah mempublikasikan versi bahasa Inggrisnya di bulan Januari 1998.

  • (*)Toru Takasuka, Shinya Hata, Aono
  • Yamada

    Itu terjadi di tahun berikutnya setelah perusahaan didirikan, ya? Waktu itu hanya ada 3 orang.

  • Aono

    Betul, betul. Kantornya adalah rumah susun 2DK (2 kamar dengan Dining Kitchen).

    Benar-benar tidak masuk akal, ya? Di Jepang saja penjualannya belum seberapa, tetapi sudah meminta tolong kepada salah seorang teman yang suaminya orang Australia untuk menerjemahkan kalimat pada produk, dan membuat homepage.

    Tetapi dari dulu kami memang sudah ingin berekspansi ke luar negeri.

  • Yamada

    Ketika masuk di perusahaan, saya juga merasa bahwa “benar-benar peduli terhadap ekspansi ke luar negeri, ya”. Gayanya juga enteng, seperti “Ini kan internet, pasti bisa terjual di seluruh dunia!” (sambil tertawa).

  • Aono

    Kalau dipikirkan sekarang, tidak mungkin bisa terjual hanya dengan gaya seperti itu (sambil tertawa). Ternyata ekspansi pertama ke Amerika berakhir dengan kegagalan.

Kami mendengarkan pembicaraan mereka berdua di “BAR” yang terdapat di dalam kantor Cybozu. Pertama-tama, mari tos dulu.

  • Yamada

    Pada awalnya perusahaan berjalan selama 3 tahun, ya?

  • Aono

    Betul. Orang yang sebelumnya menjalankannya selama 3 tahun, kemudian dilanjutkan oleh saya, tetapi kondisinya seperti “membersihkan sisa-sisa kekalahan perang”.

  • Yamada

    Staf yang direkrut juga merupakan staf lokal, dan dari Jepang sendiri hampir tidak mengeluarkan orang.

  • Aono

    Dari Jepang juga hampir tidak ada bantuan, dan kesannya seperti “Buat yang berada di Amerika, selamat berjuang di Amerika, ya”.

  • Yamada

    Waktu itu, kejadian seperti itu merupakan “hal yang umum terjadi pada perusahaan Jepang yang tidak bisa bertahan dengan baik di luar negeri”. Manajemen tingkat menengah hanya diberi anggaran, kemudian harus menjalankannya dengan persyaratan yang terbatas.

    Meskipun mengatakan globalisasi dsb., tetapi akhirnya harus berjuang sendiri dan meskipun meminta bantuan dari kantor pusat, mereka tidak bisa memahaminya. Sebaliknya malah dikomentari “kenapa membutuhkan dana sebanyak ini?”….

  • Aono

    Pintu keluarnya jadi tidak kelihatan, ya?

  • Yamada

    Betul. Bagaikan “terowongan yang tidak terlihat pintu keluarnya”.

    Tetapi sebaliknya, sumber daya yang tidak memadai seperti itu mungkin malah menguntungkan kami. Karena kami jadi tidak ragu ketika harus memutuskan untuk menarik diri.

Kami melakukan penyerbuan tanpa melakukan penelitian, padahal ada perbedaan budaya dan perbedaan bentuk perusahaan

  • Alex

    Di antara hal tersebut, apa alasan utama yang menyebabkan kegagalan?

  • Aono

    Wah, semuanya, dalam hal apapun tidak berjalan dengan baik.
    Dari bisnis di Jepang saja belum ada kelebihan dana untuk berinvestasi, tetapi harus investasi terus-menerus di Amerika, sehingga seperti permainan yang dipaksakan.

  • Yamada

    Tidak bisa berkomitmen secara penuh, ya?

  • Aono

    Sama sekali tidak.

  • Yamada

    Tetapi apakah produknya dapat diterima?

  • Aono

    Fungsi “berbagi jadwal” yang paling bisa diterima di Jepang pun tidak berhasil di Amerika.

    Ketika menanyakannya kepada pelanggan, jawabannya adalah “Kenapa saya harus memperlihatkan jadwal saya kepada atasan? Jika atasan mempercayai saya, saya tidak perlu memperlihatkannya”.

  • Yamada

    Ooh..

  • Aono

    Fungsi reservasi tempat juga tidak berlaku. Pejabat atau karyawan di perusahaan besar di Amerika memiliki ruangan sendiri, sehingga tidak ada kebutuhan untuk “pengadaan ruang rapat”.

  • Yamada

    Budayanya berbeda, dan bentuk perusahaannya juga berbeda, ya?

  • Aono

    Iya. Maka dari itu, saya merasa tidak bisa bergantung pada aplikasi, tetapi “harus menuju 1 lapisan yang berada di bawahnya”.

    Misalnya untuk PC, di produk manapun terdapat CPU milik Intel.
    Jadi, kami juga harus seperti itu. Produk jadinya diserahkan ke vendor, sedangkan kami membuat produk pendukung yang ada di lapisan bawahnya.

Yoshihisa Aono. Lahir pada tahun 1971. Setelah lulus dari fakultas teknik jurusan sistem informasi di universitas Osaka, beliau sempat bekerja di Matsushita Electric Works (saat ini berganti nama menjadi Panasonic), kemudian mendirikan Cybozu di kota Matsuyama, prefektur Ehime di bulan Agustus tahun 1997. Mulai bulan April 2005 hingga saat ini menjabat sebagai CEO. Melakukan perubahan pada gaya kerja di dalam perusahaan dan mulai tahun 2011 melakukan cloud computing system pada bisnisnya. Penulis buku『Hanya Memikirkan tentang Tim』(Diamond Inc.), 『Mungkin kita tidak bahagia karena monster yang bernama perusahaan 』(Lembaga Penelitian PHP), dsb.

  • Yamada

    Karena jika bersaing dengan aplikasi, pesaingnya banyak sekali.

  • Aono

    Betul. Di Amerika, untuk bidang yang memiliki peluang kecil sekalipun ada beberapa vendor yang menjualnya dalam bentuk paket.

    Yang mengejutkan adalah ada juga paket perangkat lunak untuk “Perusahaan limosin yang dikelola oleh keluarga”.

  • Yamada

    Orang sampai tidak tahu peluangnya ada di level mana, ya (sambil tertawa).

  • Aono

    Kalau di Jepang, tidak mungkin dijadikan paket, kan?

    Skala pasarnya sendiri sudah besar dan pemain baru juga berdatangan terus-menerus, sehingga kalau kami tidak memantapkan posisi, kami tidak bisa bertarung untuk melawannya.

  • Yamada

    Sampai saat ini pun hal tersebut tidak berubah, dan kondisinya malah semakin hebat. Para pemainnya berdatangan dari seluruh dunia, dan perusahaan yang sangat besar yang diwakili oleh GAFA(*)memutar keuntungannya untuk berinvestasi.

  • (*)4 perusahaan yang terdiri dari Google、Apple、Facebook、Amazon
  • Aono

    Ketika pertama kali melakukan ekspansi, kami tidak melakukan analisa sampai sejauh itu. Jadi kami menyerbu tanpa melakukan penelitian.

  • Yamada

    Karena kami berpikir “jika berangkat setelah melakukan penelitian, tidak seperti perusahaan modal ventura! “ (sambil tertawa)

  • Aono

    “Pokoknya berangkat dulu”. Sekaligus untuk meneliti juga.

    Ketika melakukan ekspansi yang kedua, bisnis di Jepang sudah maju. Kemudian Mr. Yamada juga masuk dan sudah menjadi perusahaan tercatat, serta bisa melakukan pengadaan sebesar 1 miliar, sehingga penjualan di dalam negeri cukup lancar dan memiliki uang yang bisa dijadikan modal.

    Untuk layanan yang tidak tergantung pada kebudayaan, kami melakukan penelitian agar dapat bersaing dengan lawan yang tangguh sekalipun seperti Microsoft.

“Bukankah sebaiknya kantor pusat dipindah ke Amerika?”, “Tidak bisa karena saya harus membesarkan anak “, “Kalau begitu, boleh tidak jika saya yang berangkat?”

  • Alex

    Mengapa Amerika menjadi tujuan pertama ketika melakukan ekspansi ke luar negeri?

  • Aono

    Pertama karena memiliki pasar yang paling besar di dunia. Di Jepang kalau tidak bisa mengambil pangsa pasar sekitar 10% tidak bisa untung, tetapi di Amerika hanya 3% pun bisa menghasilkan keuntungan. Kalau begitu, saya berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk terjun ke pasar yang peluangnya masih kecil.

    Satu lagi, di Amerika berkumpul perusahaan perangkat lunak yang menduduki puncak dunia. Jika kami bisa memberikan performa yang mengesankan, maka akan terlihat perkembangan selanjutnya yang lebih global.

  • Yamada

    “Siapa yang bisa menaklukkan Amerika, akan menaklukkan dunia”, itulah dunia IT.

    Makanya saya mengusulkan untuk “Bukankah sebaiknya berkomitmen dan memindahkan kantor pusat ke Amerika?”.

  • Aono

    Benarkah begitu?

  • Yamada

    Kemudian jawaban Mr. Aono adalah “Tidak bisa karena harus membesarkan anak” (sambil tertawa).

  • Aono

    Oh iya, mungkin saya mengatakan itu (sambil tertawa).

  • Yamada

    Terus saya bertanya “Kalau begitu, boleh tidak jika saya yang berangkat?”.

Osamu Yamada. Wakil CEO Cybozu dan CEO Cybozu USA(kintone Corporation). Tahun 1992 diterima di The Industrial Bank of Japan. Di tahun 2000 pindah ke Cybozu dan menjadi penanggung jawab yang menangani keuangan, personalia dan departemen hukum, sekaligus membentuk aturan kepersonaliaan dan aturan pelatihan pendidikan. Mulai tahun 2014 merencanakan pelebaran bisnis secara global, kemudian untuk mendirikan badan hukum lokal di Amerika, menetap di San Francisco hingga saat ini.

  • Aono

    Buat saya, tidak ada pilihan lain selain menyerahkannya kepada Mr. Yamada.

    Saya berpikir bahwa sebanyak apapun modal yang tersedia, untuk bertarung kembali di Amerika “harus membuat tim yang bisa menghasilkan layanan yang terbaik”.

    Meskipun memakan waktu, tetapi harus membuat tim yang sesuai dengan Cybozu. Untuk itu, harus Mr. Yamada yang berangkat.

  • Yamada

    Dalam proses pembentukan tim, yang penting adalah “bagaimana caranya untuk melibatkan anggota dari Jepang”, dan untuk itu yang mutlak dibutuhkan adalah “Mr. Aono terhubung dengan saya”.

    Jadi levelnya bukanlah berbicara dengan Mr. Aono dengan menjadikan General Manager sebagai perantara, tetapi Mr. Aono sendiri yang harus benar-benar pergi ke Amerika untuk berkomitmen. Jika tidak seperti itu, tidak akan maju.

    Oleh karena itu, kedudukan saya yang sama-sama bisa memberikan keputusan seperti Mr. Aono memiliki pengaruh yang besar.

  • Aono

    Betul sekali.

  • Yamada

    Rekrutmen di daerah setempat juga sama. Sebanyak apapun kami menyampaikan impian kami, orang yang mau masuk ke perusahaan yang didirikan oleh perusahaan modal ventura dari Jepang hanya sedikit.

    Tetapi jika wakil CEO dari Jepang juga ikut datang, keseriusan kami akan lebih tersampaikan.

    Jika ada yang menanyakan “Apakah anda memiliki wewenang?”, maka saya bisa menjawab “Memangnya saya datang untuk apa?”.

  • Aono

    Dengan meningkatnya jumlah orang yang bisa bekerja dengan tenang, perusahaan jadi memiliki budaya yang mirip dengan Cybozu.

Di Amerika, reformasi cara kerja yang digaungkan di Jepang sudah selesai sejak lama. Tetapi masih belum bisa bahagia?

  • Alex

    Cybozu memiliki visi untuk “membentuk perusahaan yang dipenuhi oleh teamwork”, dan saya berada di sini karena berempati dengan hal tersebut. .

    Apakah anda merasa visi Cybozu juga sudah diekspor secara utuh ke Amerika?

  • Yamada

    Meskipun sedikit demi sedikit, teman-teman yang berempati mulai bertambah.

    Amerika adalah bangsa yang multientis, sehingga diversitas adalah suatu hal yang wajar. Tetapi ada juga sisi yang hanya memperhatikan “bagaimana caranya agar orang yang pintar bisa memajukan perusahaan dan meningkatkan nilai saham”.

    Bahkan orang yang pintar pun merasa “saya harus bertindak sejauh apa demi uang?”, “sebanarnya saya ingin menjalani kehidupan yang lebih baik”. Mungkin hal tersebut juga menjadi salah satu yang melatarbelakanginya.

  • Aono

    Jadi “suasana yang mengelilingi perusahaan” di Amerika juga mengalami perubahan, ya?

  • Yamada

    Betul. Dulu Amerika juga pernah mengalami periode pertumbuhan yang tinggi, yaitu zaman di mana orang bekerja di perusahaan besar seperti General Motor dalam jangka waktu yang lama menjadi sebuah status.

  • Aono

    Tetapi kemudian perusahaan modal ventura di bidang IT banyak bermunculan dan memiliki kekuatan ekonomi yang menduduki puncak dunia.

  • Yamada

    Betul. Bekerja secara remote menjadi hal yang umum, sehingga reformasi cara kerja yang digaungkan di Jepang sudah selesai sejak lama.

    Tetapi orang-orang yang telah mengalami reformasi cara kerja tersebut saat ini mulai merasa “kok tidak bahagia, ya”.

Alexander Steullet (dipanggil Alex). Bergabung dengan Cybozu di bulan November 2018, sebagai penanggung jawab konten global di Cybozu style. Lahir di Rusia dan berasal dari Swiss.

  • Aono

    Di Jepang disampaikan untuk “berhentilah untuk bekerja dalam waktu yang lama”, tetapi di Amerika mungkin sudah lelah dengan “organisasi yang dikuasai oleh pemikiran yang berorientasi pada hasil”, seperti warna orange pada organisasi teal.

  • Yamada

    Oleh karena itu, di Amerika pun kami tetap menyampaikan tentang cara bekerja, sehingga berada di posisi yang lucu.

    Jika budaya Cybozu misa menyebar, maka kintone juga otomatis akan tersebar.

    Sistem internal perusahaan yang ada selama ini adalah, orang yang memiliki kekuatan akan mengontrol informasi dan mendorong untuk memiliki pemikiran yang berorientasi pada hasil. Tetapi kintone adalah kebalikannya, yaitu sistem untuk membuka informasi kepada semua orang.

Perusahaan yang dibuat oleh manusia untuk membahagiakan, malah membuat orang menjadi tidak bahagia

  • Aono

    Pada awalnya perusahaan dibuat oleh manusia untuk menjadi bahagia, kan? Tetapi di Jepang keberadaannya menjadi besar sebagai “tuan perusahaan”.

    Jadi perusahaan ada bukan untuk manusia, tetapi kondisinya adalah orang ada untuk tuan perusahaan.
    Di Amerika sedikit berbeda, karena CEO memanfaatkan perusahaan sebagai sistem untuk menguasai orang atau uang.

    Dalam hal ini memiliki kesamaan bahwa “banyak orang yang menjadi tidak bahagia”, ya?

  • Yamada

    Betul. Menurut saya hal mendasar tentang “melakukan aktivitas agar orang menjadi bahagia” tidak berubah. Nah, kebetulan sistem bernama perusahaan memang praktis, sehingga digunakan untuk menjalankan hal tersebut.

    Tetapi saat ini baik di Jepang maupun di Amerika, perusahaan tidak berjalan ke arah yang membuat orang bahagia.

    Maka dari itu, menurut saya kita hanya cukup mengatakan hal-hal singkat seperti “Mari kita jadikan perusahaan untuk membuat orang bahagia”. Perusahaan ada untuk membahagiakan orang yang bekerja di situ.

  • Aono

    Itu betul-betul seperti Cybozu, ya. Jika bisa mewujudkan tim yang mementingkan 100 orang 100 macam cara baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan, pasti sangat menyenangkan.

  • Yamada

    Betul sekali. Menurut saya, pesan tentang “100 orang 100 macam cara” lebih mengena di Amerika. Di Jepang, yang namanya keberagaman paling hanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi di Amerika, bisa termasuk ras, agama, dan LGBT.

  • Alex

    Tetapi pada kenyataannya, orang-orang yang disebut sebagai minoritas akan ditempatkan di bawah kesenjangan.

  • Yamada

    Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan bahwa “Sudah benar tentang 100 orang 100 macam cara. Yang penting anda menjadi bahagia, tanpa mempedulikan atribut anda”.

    Pesan ini juga memiliki kesamaan dengan visi yang dituju oleh Amerika dalam sejarahnya yang panjang. Sesuatu yang selama ini benar-benar ingin dilakukan, tetapi masih belum dapat diwujudkan.

  • Aono

    Betul.

    Kami juga ingin beraktivitas menjadi sosok yang mendukung impian Amerika.

  • Penulis : Shinsuke Tada / Foto : Ryo Tsuchida / Penyunting : Yoshimitsu Fujimura dan Alex Steullet

SNS Share