Platform kerja tim kintone

Keluarga dan Pekerjaan

17.Feb.2020 17:24

Keluarga di masa yang akan datang dan bentuk pekerjaan

Tidak perlu berbagi dalam segala hal “hanya karena suami-istri”. Yang penting adalah ikatan yang lemah tetapi banyak daripada satu ikatan yang erat──Toshinao Sasaki & Taiko Matsuo

Suami-istri harus selalu berkomunikasi dengan baik dan rukun, kemudian sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama di akhir minggu…..

Itulah salah satu dari “Gambaran rumah tangga yang ideal” yang “bersifat mutlak”, seperti yang dibayangkan dalam keluarga yang membesarkan kita atau di dalam masyarakat. Tetapi dengan saling memaksakan hal tersebut, kemudian berharap dan kecewa, mungkin pada akhirnya ada orang yang merasa tidak nyamanan dengan hubungan yang disebut suami-istri.

Bagaimanapun, dalam hubungan suami-istri orang harus berhadapan 1 lawan 1, dan cenderung menjadi “hubungan sesama manusia yang dalam, sempit, dan erat”. Mungkin ada juga orang yang menjadi ragu untuk menikah dan membangun keluarga karena merasa kebebasan pribadinya akan terenggut.

Mr. Toshinao Sasaki sebagai jurnalis dan Mrs. Taiko Matsuo yang berprofesi sebagai seniman dan ilustrator adalah suami-istri yang telah hidup bersama selama 17 tahun, dan ini merupakan tahun ke-11 bagi mereka terdaftar di catatan sipil. Mereka bercerita bahwa menganggap “suami-istri sebagai salah satu lapisan dari sekian banyak hubungan sesama manusia yang ada”, dan saling membangun “hubungan sesama manusia yang dangkal,luas, dan lemah”.

Mereka berdua mengerjakan pekerjaannya masing-masing secara mandiri di tempat tinggalnya yang berada di 3 tempat, yaitu Tokyo, Karuizawa dan Fukui,. Bagaimana hubungan suami-istri Mr. Sasaki dan Mrs. Matsuo yang “tidak menyukai stereotip” memberikan pengaruh terhadap pekerjaan masing-masing? Kami akan menguraikan “bentuk keluarga” mereka berdua yang tidak terikat pada stereotip.

Suami-istri sebagai pasangan dalam menjalankan projek untuk mewujudkan kehidupan di banyak tempat

  • Rurika Toku

    Saat ini anda berdua melakukan kegiatan di 3 tempat yaitu Tokyo, Karuizawa, dan Fukui, tetapi untuk lebih lengkapnya kehidupan dan cara kerja seperti apa yang dijalankan?

  • Toshinao Sasaki

    Untuk saat ini, style dasarnya adalah dengan berpindah tempat setiap 1 minggu, sehingga dalam 1 bulan kami tinggal selama 2 minggu di Tokyo, 1 minggu di Karuizawa, dan 1 minggu di Fukui. Saya menentukan garis besar jadwal untuk berpindah tempat sekitar 2 bulan sebelumnya, dan memasukkan rencana pekerjaan dengan menyesuaikan jadwal tersebut.

    Ketika berada di Tokyo, biasanya diisi dengan jamuan makan atau terkonsentrasi pada pekerjaan untuk menghadiri event atau media, sehingga saya hampir tidak ada di rumah ketika malam hari.

  • Taiko Matsuo

    Biasanya kami malam bersama di Tokyo hanya seminggu sekali.

Toshinao Sasaki. Jurnalis. Lahir pada tahun 1961, berasal dari prefektur Hyogo. Setelah bekerja di Mainichi Sinbun dll., mulai bekerja mandiri di tahun 2003. Melakukan liputan dan menulis beragam topik secara luas, dimulai dari teknologi, politik, ekonomi, sosial, dan gaya hidup. Menulis banyak buku. Dentsu Communication Institute fellow. Bukunya yang berjudul 『Hidup dengan Ikatan yang Luas dan Lemah”』 (Gentosha Shinsha Inc.) telah beredar di pasaran.

  • Toshinao Sasaki

    Sebaliknya, di Karuizawa kami tidak memiliki interaksi dengan masyarakat sekitar, sehingga setelah tiba di sana, kami akan menyelesaikan pekerjaan masing-masing dan akan makan berdua.

    Saat di Fukui, kegiatan berrpusat di “Creator In Residence” yang memanfaatkan rumah kosong di kota Mihama, di mana kami sebagai suami-istri melakukan pekerjaan sebagai “advisor yang beraktivitas di banyak tempat”. Oleh karena itu, di situ kami aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar, dan sering mengundang teman dari Tokyo.

  • Taiko Matsuo

    Minggu kemarin juga ada seorang pengusaha wanita yang main ke sini bersama keluarganya.

  • Rurika Toku

    Apakah ada perubahan terhadap hubungan suami-istri setelah hidup di banyak tempat?

  • Toshinao Sasaki

    Sebelumnya juga kami tidak tinggal bersama terus, sehingga tidak ada perubahan yang besar.

    Suami-istri merupakan salah satu dari sekian banyak hubungan sesama manusia yang ada. Saat ini kedudukannya adalah sebagai pasangan dalam menjalankan projek untuk mewujudkan kehidupan di banyak tempat.

  • Taiko Matsuo

    Tetapi jika dibandingkan saat tinggal di Tokyo, saya merasa kami jadi lebih banyak berkomunikasi.

    Selama ini topik pembicaraannya berpusat pada hal-hal terkait kehidupan dan hampir tidak pernah membahas soal pekerjaan, tetapi setelah hidup di banyak tempat, kami bisa menjadi advisor bersama, saya juga mulai membuat kerajinan keramik dan bisa berkonsultasi dengan suami, sehingga untuk pertama kalinya kami menemukan titik temu sebagi suami-istri dalam hal pekerjaan.

Taiko Matsuo. Seniman / ilustrator. Lahir di kota Kure, prefektur Hiroshima. Setelah lulus dari pendidikan diploma, bekerja selama kurang-lebih 10 tahun di produsen mobil, dan datang ke Tokyo pada tahun 1995 saat berusia 32 tahun. Sejak tahun ’98 menjadi ilustrator freelance, dan telah menangani lebih dari 300 gambar sampul buku. Kemudian sejak tahun 2014 mulai membuat kerajinan keramik. Saat ini melakukan aktivitas yang berpusat di 3 tempat, yaitu Tokyo, Karuizawa, dan Fukui. Bukunya yang berjudul『Jurus untuk Menata “Hal-hal yang Mengganjal” dalam Hidup Seperti Kesulitan dalam Membersihkan Kamar, Kesulitan dalam Mengatur Pekerjaan Rumah Tangga, dan Hubungan Sesama Manusia yang Tidak Berjalan Lancar 』telah beredar di pasaran.

Tidak ada pembagian laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan dan rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh yang mampu mengerjakannya

  • Rurika Toku

    Apakah sebelum hidup di banyak tempat anda berdua tidak pernah menangani pekerjaan bersama sebagai suami-istri?

  • Taiko Matsuo

    Selama ini tidak pernah ada pekerjaan yang melibatkan jurnalis dan ilustrator, ya. Kami bahkan tidak pernah berpikir untuk bekerja bersama.

    Saat mulai membuat kerajinan keramik dari nol di Fukuoka, saya baru sadar bahwa saya bisa meminta bantuannya. Misalnya ketika akan mengadakan pameran tunggal, saya minta untuk dicarikan tempat dengan bantuan koneksi yang dimiliki suami, atau meminta bantuan untuk membuatkan cerita bagi karya saya dengan kekuatan kata-kata yang dimilikinya.

  • Toshinao Sasaki

    Jadi meskipun kami bekerja sama sebagai suami-istri, bukan berarti hanya dikerjakan berdua saja, tetapi dalam setiap keterkaitannya kami juga dibantu oleh banyak orang.

  • Rurika Toku

    Secara umum pekerjaan dan rumah tangga adalah dua hal yang bertentangan, tetapi saya merasa bahwa anda berdua tetap berjalan sendiri-sendiri, tetapi juga terhubung secara fleksibel.

  • Toshinao Sasaki

    Sebenarnya pekerjaan dan rumah tangga menjadi hal yang bertentangan karena adanya persepsi untuk memisahkan ranah publik dan privasi, serta masih berakarnya nilai-nilai di zaman Showa (25 Desember 1926–7 Januari 1989), yang beranggapan bahwa tugas perempuan adalah menjaga rumah tangga dan tugas laki-laki adalah mencari uang di luar rumah.
    Bagi kami, tidak ada pembagian laki-laki dan perempuan, dan pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh yang mampu mengerjakannya.

  • Rurika Toku

    Bagaimana anda berdua membagi pekerjaan rumah tangga? Apakah tidak pernah berselisih paham…?

  • Taiko Matsuo

    Untuk urusan pekerjaan rumah tangga, suami yang memasak dan membuang sampah, kemudian saya yang bersih-bersih dan mencuci baju.

    Di rumah kami tidak ada persepsi bahwa pekerjaan rumah tangga harus dilakukan oleh perempuan, sehingga tidak pernah berselisih paham dalam membagi pekerjaan rumah tangga.

  • Toshinao Sasaki

    Saya merasa bahwa hubungan suami-istri yang nyaman adalah dengan membangun hubungan yang fleksibel dalam ruang yang terdiri dari ranah pekerjaan dan privasi masing-masing (area yang terbatas), kemudian saling terhubung ketika membutuhkan.

Membangun dari nol “Hubungan suami-istri yang tidak menyatu”, tanpa memiliki “Gambaran keluarga yang ideal”

  • Rurika Toku

    Bagaimana anda berdua bisa membangun “Hubungan suami-istri yang nyaman” seperti saat ini?

  • Taiko Matsuo

    Sejak awal saya sama sekali tidak mengidam-idamkan pernikahan atau memiliki gambaran ideal untuk membangun rumah tangga yang diidamkan, sehingga tidak dapat membayangkan skema “menikah = bahagia”.

    Pernikahan pertama saya juga karena ingin keluar dari rumah orang tua saya yang sangat ketat, sehingga rasanya seperti menyewa ruangan bersama untuk hidup. Sama halnya waktu menikah dengan beliau, yaitu karena “Biaya keanggotaan di pusat kebugaran akan lebih murah jika terdaftar sebagai keluarga”. Setelah itu hanya mengalir saja dan kami mendaftarkan diri di catatan sipil. Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan hal tersebut.

  • Toshinao Sasaki

    Kita menjadi tersiksa karena berusaha untuk membangun “hubungan suami-istri yang ideal”.

  • Taiko Matsuo

    Suami saya sejak awal memang tidak memiliki keinginan untuk menikah dan tidak memiliki stereotip, sehingga tidak menuntut apa-apa dan tidak memaksakan apapun juga. Sebaliknya jika saya sedang terpuruk, beliau akan menguatkan saya.

    Sejak hidup bersama dengannya, saya lebih merasa bebas dan lebih bisa menjadi diri sendiri. Kami berasal dari lingkungan rumah tangga yang tidak memiliki “Gambaran rumah tangga yang ideal”, sehingga ini lebih baik karena bisa membangun hubungan dari nol.

  • Toshinao Sasaki

    Karena kami saling berbagi filosofi kehidupan yang mengizinkan untuk berpikir dari nol.
    Apalagi pekerjaan kami berdua juga menghasilkan sesuatu dari nol, sehingga memiliki kemiripan nilai-nilai.

Suami-istri bukan berarti harus berbagi dalam segala hal, baik dalam hal pekerjaan, rumah tangga, hobi maupun teman

  • Toshinao Sasaki

    Hubungan suami-istri yang menyatu membuat hidup menjadi sulit. Suami-istri bukan berarti harus berbagi dalam segala hal. Karena jika membuat titik temu yang terlalu erat, akhirnya merasa tidak senang ketika harus bersama.

    Jika tidak cocok dengan selera filmnya tidak perlu menonton bersama, dan jika tidak cocok dengan selera musiknya, tidak perlu mendengarkan bersama. Hanya perlu begitu saja.

  • Taiko Matsuo

    Ketika muda memang sebisa mungkin ingin bersama dan ingginnya berbagi hal yang saya sukai, ya (sambil tertawa).

    Tetapi setelah tinggal bersama dan pekerjaan masing-masing semakin sibuk, waktu untuk bersama menjadi terbatas, sehingga saya jadi tidak ingin menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak disukainya, dan berhenti untuk memaksakan hal yang saya sukai tetapi tidak disukainya.

  • Rurika Toku

    Begitu, ya.

  • Taiko Matsuo

    Misalnya suami saya tidak suka mendengarkan keluh-kesah, tetapi terkadang saya ingin berkeluh-kesah. Di saat seperti itu saya tidak akan bercerita kepadanya, tetapi pergi untuk bertemu dengan teman yang mau mendengarkan keluh-kesah saya.

    Jadi menurut saya, penting juga untuk membangun hubungan di luar, selain hubungan suami-istri.

  • Toshinao Sasaki

    Jika selama pulang-pergi antara kantor dan rumah terdapat hubungan sesama manusia dengan nilai 100, dan prosentase hubungan suami-istrinya adalah 50 persen, pasti akan ada keluh-kesah dan rasanya menyesakkan.
    Hubungan yang 1 per 100 pasti akan lebih ringan dan bisa tetap sayang terhadap pasangannya.

  • Rurika Toku

    Memang dibandingkan bersama-sama terus, perasaan sayang bisa tahan lama jika ada sedikit jarak.

  • Taiko Matsuo

    Yang membuat kami merasa lebih dekat adalah ketika 7 atau 8 tahun yang lalu suami saya mulai mendaki gunung. Beliau memulai kembali kegiatannya untuk mendaki gunung di saat kami merasa ada potensi untuk sering bertengkar karena sering bersama dalam waktu yang lama.

    Sejak itu, hingga saat ini beliau selalu pergi ke gunung 2 kali dalam sebulan, dan karena berkumpul bersama teman-teman, beliau akan pulang dengan kondisi santai dan bisa berinteraksi dengan lebih sabar.

    Sejak suami saya mulai mendaki gunung, saya juga jadi suka jalan sendiri ke kota, dan jadi memiliki teman untuk makan bersama, pergi ke festival, running, dll.

  • Toshinao Sasaki

    Daripada memiliki satu ikatan yang erat sebagai suami-istri, lebih baik memperbanyak ikatan lemah dari berbagai vektor, karena di zaman ini hal tersebut akan menjadi jaring penyelamat.

  • Taiko Matsuo

    Jika hanya hubungan 1 lawan 1 sebagai suami-istri, hal tersebut akan menjadi beban dan ada risiko untuk tumbang bersama.

  • Toshinao Sasaki

    Betul. Maka dari itu, lebih baik tidak berbagi dalam segala hal baik dalam hal pekerjaan, rumah tangga, hobi, maupun teman.

    Tentu saja untuk hal-hal yang hanya bisa dibagikan sebagai suami-istri seperti orang tua, anak, dsb., harus berbagi. Yang penting adalah hubungan suami-istri yang terbuka.

Berbagi nilai-nilai kebudayaan untuk membangun hubungan suami-istri yang terbuka

  • Rurika Toku

    Apa yang harus dilakukan untuk membangun hubungan suami-istri yang terbuka?

  • Toshinao Sasaki

    …..sebenarnya kenapa jadi tertutup, ya? Mungkin karena tidak bisa berbagi nilai-nilai dan budaya, sehingga menjadi khawatir dan tidak bisa percaya, kemudian jadi menentukan aturan atau menahan nafsu, ya.

    Jika berbagi nilai-nilai dan saling memahami, belum tentu membutuhkan waktu untuk bersama secara fisik.

  • Rurika Toku

    Dalam kesehariannya, apa yang dilakukan oleh anda berdua untuk berbagi nilai-nilai dan budaya?

  • Toshinao Sasaki

    Dari segi pekerjaan, saya banyak menonton film. Dan akhir-akhir ini semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk menonton contoh DVD karya baru yang saya pinjam, bersama dengan istri saya di Fukui atau Karuizawa.

    Saat itu yang kami lakukan adalah bukannya menghakimi “suka atau tidak” dan “bagus atau tidak”, tetapi kami membahas tentang apa yang bisa dibaca dari kisah tersebut dan apa yang dirasakannya. Karena cara merasakan suatu karya akan memperlihatkan nilai-nilai kebudayaan.

  • Rurika Toku

    Jadi begitu, ya. Anda berdua berbagi nilai-nilai secara alami melalui buku atau film, ya.

    Kalau begitu, apakah sulit untuk menjadi pasangan jika memegang nilai-nilai yang berbeda, meskipun kita sangat menyukainya….?

  • Toshinao Sasaki

    Jika keduanya tidak bisa mengalah dalam mempertahankan perbedaan nilai-nilai dasar untuk menjalankan hidup, maka saya rasa ini akan sulit. Karena pacar dan suami-istri itu berbeda.

  • Taiko Matsuo

    Kemeriahan jatuh cinta hanya terjadi dalam sekejap, tetapi jika telah menjadi suami-istri, rasa cintanya akan berubah karena mencakup hal yang lebih luas lagi.

    Memang penting untuk bisa berbagi rasa dalam kehidupan dan nilai-nilai terhadap masyarakat, tetapi bagi saya, rasa cinta untuk menyukai orang juga penting.

    Saya juga merasakan bahwa suami saya memiliki perasaan itu terhadap diri saya. Meskipun beliau tidak akan pernah mengatakannya (sambil tertawa).

  • Toshinao Sasaki

    Kalau kamu bilang seperti itu, nanti hanya bagian itu saja yang ditonjolkan, dan ditulis “Ternyata cinta adalah no.1”.

  • Rurika Toku

    Tidak akan saya tulis di judul (sambil tertawa)

Suami-istri untuk mendapatkan kenyamanan sehari-hari yang berkelanjutan dengan fleksibel

  • Taiko Matsuo

    Saya menikah untuk yang ke-2 kalinya, dan dalam hal apapun pasti akan adal hal yang “baru diketahui setelah gagal”.

    Saya menyukai fashion dan sejak usia belasan tahun telah menghabiskan banyak uang untuk hal tersebut. Tetapi karena banyak mengalami kegagalan, saat ini akhirnya saya bisa mengetahui baju apa yang cocok dan nyaman untuk diri saya.

    Meskipun tadinya dikira memegang nilai-nilai yang sama, tetapi kadang kala bisa berbeda, sehingga kita bisa mengulangnya lagi dari hal-hal yang kita sadari.

  • Toshinao Sasaki

    Jangan menganggap bahwa ini hanya terjadi satu kali. Di saat tidak ada perubahan dalam hubungan suami-istri, ada orang yang berpetualang untuk mencari rangsangan. Tetapi saya lebih cocok untuk mencari kenyamanan sehari-hari yang bisa berlanjut selamanya.

    Bagi saya, suami-istri adalah pasangan untuk mencintai hari demi hari dalam kehidupan yang berkelanjutan.

  • Rurika Toku

    Begitu, ya….!

  • Toshinao Sasaki

    Tidak seperti mengganti tombol formal dan informal, pekerjaan dan rumah tangga, on dan off, tetapi melanjutkan kehidupannya dengan tenang dan damai. Misalnya perusahaan juga ada kalanya bisa lebih bahagia dengan mempertahankan jumlah karyawan dan pelanggannya di angka tertentu untuk menentukan formasinya agar dapat bertahan lama, dibandingkan tumbuh dengan pesat agar semakin besar.

    Hubungan suami-istri maupun hubungan sesama manusia lainnya juga sama, yang penting adalah diperpanjang secara terus-menerus.

  • Taiko Matsuo

    Alangkah baiknya jika dengan berkreasi agar diri kita dan pasangan tidak bosan dan memperluas hubungan sesama manusia yang beragam, kita bisa mempertahankan hubungan suami-istri yang membuat nyaman satu dan lainnya secara fleksibel di masa yang akan datang.

Teks : Rurika Toku / Penyunting : Yuka Akashi /Dokumentasi : Sakie Miura

Artikel ini berasal dari Cybozu Style yang dicetak ulang.

https://cybozushiki.cybozu.co.jp/

SNS Share