Platform kerja tim kintone

Cara kerja dan Cara hidup

28.Aug.2020 11:43

Bagaimana jika bekerja dari rumah?

Apakah kendala saat bekerja dari rumah seperti yang saya rasakan cukup diselesaikan dengan kata “apa boleh buat”? ── Sekaranglah saatnya untuk memikirkan apa yang dirasakan “para pekerja yang minoritas”

Artikel kali ini adalah serial dari buku yang menceritakan sudut pandang Yoshiharu Takeuchi sebagai pelaku dari pengelola Organisasi Non Profit di daerah, yang juga memiliki pekerjaan sampingan (double job) di Cybozu. Tema yang diangkat kali ini adalah “cara berhubungan dengan golongan minoritas”

 

“sulit untuk berkomunikasi”, “merasa kesepian” ―― Saat ini bekerja dari rumah dan telework (bekerja jarak jauh) menjadi sebuah tren, dan tentunya banyak orang yang merasakan permasalahan tersebut saat bekerja dari rumah. Tetapi sebenarnya permasalahan tersebut “bukanlah hal baru”, dan merupakan hal yang sudah dirasakan sejak lama oleh sebagian besar orang yang bekerja dari rumah.

 

Masalah yang dirasakan oleh banyak orang akan muncul ke permukaan. Tetapi jika masalah tersebut hanya dirasakan oleh golongan minoritas, orang lain akan sulit untuk memahaminya. Karena saat ini bekerja dari rumah sedang menjadi sebuah tren, saya ingin memikirkan kembali “cara berhubungan dengan golongan minoritas”.

Bagaimana kabar kalian yang bekerja dari rumah?

Sudah beberapa bulan berlalu sejak bekerja dari rumah dan teleworking digalakkan. Saya rasa kebanyakan orang pasti merasa kesulitan. Apa yang mempersulit anda? Bagaimana kabarnya?

 

Jika anda baru pertama kali bekerja dari rumah, hal-hal di bawah ini mungkin telah menjadi masalah atau membuat anda stres.

 

• Sulit untuk mengomunikasikan pekerjaan secara online.
• Kesulitan untuk berkomunikasi melalui teks dan mengungkapkan sesuatu secara tertulis.
• Pekerjaan terhambat karena tidak bisa “bertanya secara langsung”.
• Dalam 1 hari ada rapat online beberapa kali. Jujur saja, itu melelahkan.
• Kerepotan untuk mengurus administrasi dalam bentuk kertas seperti tagihan dan kwitansi.
• Tidak terbiasa duduk di kursi yang bukan kursi kerja, sehingga pinggangnya sakit.
• Lelah karena tidak ada monitor atau keyboard.
• Tubuhnya kurang bergerak. Kurang olah raga.
• Keluarga “meminta bantuan”, di saat bekerja.
• Anak-anak ribut sehingga tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.
• Biaya listrik membengkak.
• Biaya makan membengkak.
• Merasa kesepian.

 

Dan tentunya anda juga pernah merasakan hal-hal seperti ini.

 

• Ingin pergi ke luar.
• (di luar dugaan) Ingin pergi ke kantor.
• Ingin ngobrol hal-hal yang tidak penting.
• Ingin makan siang bersama-sama.
• Ingin pergi minum-minum.
• Merindukan keberadaan orang lain.

 

Tentunya ada juga orang yang merasakan “ternyata bekerja dari rumah sangat nyaman”, atau “lebih bisa konsentrasi dibandingkan bekerja di kantor”. Tetapi pasti lebih banyak orang yang merasakan “Berat banget….” dalam berbagai hal.

 

Kali ini dengan banyaknya orang yang bekerja dari rumah, permasalahan yang dihadapi menjadi jelas. Tetapi bagi saya, sebenarnya itu bukanlah “hal baru”

 

Saya bekerja di Cybozu sejak bulan Mei 2017. Cara kerjanya adalah dengan “bekerja dari rumah selama 2 hari dalam seminggu”. Jadi, saya bekerja secara “full remote” dari rumah saya di Nigata. Ditambah lagi, saya memiliki pekerjaan utama yang lain, dan pekerjaan di Cybozu merupakan “double job”.

 

Jauh sebelum menjalankan double job di Cybozu, saya telah bekerja dari rumah sebagai freelance. Oleh karena itu, saya pikir saya sudah terbiasa untuk bekerja di rumah. Tetapi cara kerja dari rumah setelah bergabung dengan organisasi dan ketika menjadi freelance ternyata jauh berbeda, sehingga saya juga sempat kebingungan.

Apa boleh buat, saya kan bekerja dari rumah

Permasalahan yang muncul saat bekerja dari rumah seperti yang disampaikan di awal, telah saya jabarkan secara terbuka di internal Cybozu. Tetapi kalau boleh jujur, selama 3 tahun ini tidak sedikit permasalahan saya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.

 

Misalnya ketika mengikuti rapat virtual, atau yang dikenal sebagai konferensi web. Kali ini banyak yang sudah merasakan konferensi web, dan mungkin “rasanya datar-datar saja” karena dihubungkan secara langsung dari masing-masing rumah.

 

Karena pembicaraannya ternyata bisa berjalan dengan lancar, kemungkinan banyak yang merasa “jika seperti ini, maka tidak ada masalah untuk menjalankan pekerjaan biasa”. Atau bahkan ada yang merasa “ternyata lebih mudah berbicara di sini daripada di kantor”.

Jika semua orang hadir dalam konferensi web, jabatan dan hubungan senior-junior tidak berpengaruh, sehingga rasanya seperti bertemu secara serentak.

Tetapi jika 1 orang saja yang bekerja dari rumah dan anggota lainnya berada di office, saat melakukan konferensi web “1 lawan n orang”, orang yang terhubung secara remote akan kesulitan untuk bergabung dalam pembicaraan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di kantor.

Konferensi web 1 lawan n orang berarti saya mengikuti rapat sendirian di balik layar yang dilihat bersama-sama. Sangat sulit untuk menyela pembicaraan dengan mengatakan “maaf, apakah saya bisa bergabung dalam pembicaraan?” kepada orang-orang yang sedang berdiskusi secara langsung.

Selain itu, pada dasarnya biaya internet dan listrik yang digunakan untuk bekerja dari rumah harus ditanggung sendiri. Dulu ketika saya berbincang-bincang dengan orang yang sama-sama bekerja dari rumah, kami sempat menyinggung tentang “bagaimana dengan biaya internet dan listrik?”. Dan jawabannya adalah “Apa boleh buat ya (harus ditanggung sendiri)…”.

 

Kemudian seperti yang disampaikan di awal, bekerja dari rumah juga ternyata membuat kita merasa kesepian. Kita jadi merindukan keberadaan orang lain. Terkadang ingin ngobrol dengan yang lain, atau ingin pergi minum-minum bersama orang lain. Kalau sekarang “minum-minum secara online” sedang jadi tren, tetapi sebelum “semua orang bekerja dari rumah”, tidak ada topik seperti itu, dan hanya bisa mengatakan “Apa boleh buat, ya (tetap merasa kesepian)…”.

 

Tetapi sebaliknya, saya juga pernah merasa kesepian ketika terhubung dengan acara minum-minum online. Di Cybozu, sejak dulu acara yang melibatkan seluruh perusahaan seperti ohanami (tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga sakura) dan peringatan hari jadi kantor disiarkan langsung secara online agar bisa diakses dari luar kantor.

 

Di kantor, suasananya sangat meriah sambil minum bir bersama-sama, sedangkan saya hanyalah seorang diri. Rasa kesepian yang dirasakan ketika harus melihat suasana tersebut melalui layar benar-benar menyedihkan.

 

Tetapi saya juga bisa memahami kenapa jadi begitu. Itu karena kebanyakan orang tidak memiliki pengalaman “bekerja dari rumah secara full time”. Dan akhirnya saya jadi bisa berdamai dengan diri sendiri dengan mengatakan “Apa boleh buat, ya. Kan kita sendiri yang memilih untuk bekerja dari rumah”, atau “Sudah beruntung masih bisa bekerja walaupun kondisinya sedang sulit seperti ini”.

Ketika minoritas menjadi mayoritas, kondisinya akan berubah dalam sekejap

Tetapi ketika semua orang bekerja dari rumah, kondisinya jadi berubah.

Misalnya acara “ohanami” yang setiap tahun diadakan di kantor, tahun ini diadakan secara online. “seperangkat perlengkapan ohanami” akan diantarkan ke rumah masing-masing orang yang menginginkannya.

Selain itu, uang transport yang ditiadakan karena adanya larangan berangkat ke kantor juga diganti dengan biaya pendukung untuk bekerja dari rumah, berupa uang tunjangan listrik yang diberikan kepada karyawan resmi, karyawan kontrak maupun pekerja part time.

 

Ditambah lagi, untuk mengatasi keluhan dari karyawan seperti “sulit untuk bekerja dengan meja yang ada di rumah”, “kursi di rumah membuat sakit pinggang”, “matanya lelah karena pencahayaannya kurang” dll, diberikan biaya bantuan sebesar 30 ribu Yen (sekitar Rp. 4 juta) untuk membeli meja, kursi, lampu, dll.

 

Mungkin terdengar seperti memuji perusahaan sendiri karena saya adalah karyawan yang bekerja di situ, tetapi saya merasa bahwa “ini adalah perusahaan yang baik”. Saya menjalankan double job, sehingga saya juga bekerja di perusahaan lain. Oleh karena itu, saya mengerti betapa beratnya kondisi di luar sana. Dengan memahami kondisi tersebut, yang ingin saya katakan adalah “Perusahaan seperti ini jarang ada”.

 

Tetapi di sisi lain, saya juga merasa seperti ini. “Sebenarnya permasalahan yang muncul saat bekerja dari rumah bukanlah hal yang baru. Saya sudah merasakannya selama 3 tahun”.

 

Ketika yang merasa “saya kesulitan!” jumlahnya hanya sedikit, sulit untuk mendapatkan pengertian dari orang lain. Tetapi ketika yang merasa “saya kesulitan!” jumlahnya banyak, kondisinya akan berubah seketika dengan kecepatan yang luar biasa.

 

Ini menunjukkan bahwa banyaknya orang yang bekerja dari rumah menyebabkan “semakin banyak orang yang bisa memahami permasalahan yang muncul saat bekerja dari rumah”. Hal ini sangat menggembirakan. Dengan begitu, muncul harapan bahwa “ke depannya, akan semakin mudah dalam bekerja”.

 

Tetapi perubahan kali ini terjadi karena adanya kondisi darurat yang “memaksa orang untuk bekerja dari rumah”, sehingga jika tidak ada kondisi darurat tersebut, mungkin kendala yang muncul hanya diselesaikan dengan kata “Apa boleh buat, ya”.

 

Di situ saya jadi berpikir. “Alangkah baiknya jika saya bisa mendengarkan pendapat golongan minoritas dalam keseharian saya, dan tidak hanya ketika terjadi kondisi darurat seperti ini atau setelah dirasakan oleh banyak orang.

 

Ini tidak hanya menyangkut permasalahan dalam bekerja dari rumah. Di dunia ini, banyak sekali ”orang yang termasuk dalam golongan minoritas”.

“menghormati keberagaman individu” yang sebenarnya agar orang-orang dari golongan minoritas juga mudah bekerja

Bagaimana caranya mewujudkan lingkungan yang mempermudah “orang-orang yang termasuk dalam golongan minoritas” untuk bekerja?

 

Dalam nilai-nilai yang dipegang erat oleh Cybozu, terdapat nilai untuk “menghormati keberagaman individu”. “100 orang, 100 macam cara kerja” adalah salah satunya.

 

Secara umum, “keberagaman individu” menunjukkan “karakteristik” yang dimiliki oleh masing-masing orang seperti sifat, kelebihan dan kekuatan, serta nilai-nilai yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jenis kelamin dan kewarganegaraan juga termasuk dalam karakteristik.

 

Tetapi dari pengalaman saya kali ini, saya merasa bahwa “lingkungan” di mana orang tersebut berada juga termasuk dalam “keberagaman individu”.

 

Misalnya dalam istilah “bekerja dari rumah”, di dalamnya ada orang yang melakukannya atas kemauannya sendiri karena “ingin bekerja di tempat yang disukai”, atau “tidak ingin dibatasi oleh tempat dan waktu” dsb.

 

Tetapi di lain pihak, ada juga orang yang bekerja dari rumah karena kondisi yang dihadapinya seperti “harus merawat orang tua”, “pasangan hidupnya pindah tugas”, dll, dan ada juga yang “harus bekerja sambil mengurus anak”. Selain itu, ada juga orang yang “terpaksa harus seperti itu” karena kondisi fisik atau mentalnya, sehingga tidak punya pilihan lain.

 

Orang-orang yang “tidak punya pilihan lain” seperti itu kebanyakan merupakan golongan minoritas dengan alasan tertentu, sehingga mereka sangat “bersyukur masih bisa bekerja walaupun berada dalam kondisi yang sulit”. Tetapi akibatnya, mereka jadi sulit untuk mengutarakan perasaan yang sesungguhnya.

 

Dan kita yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya seringkali mengatakan “Apa boleh buat, ya” kepada mereka, bukan?

 

Bukan berarti saya menyuruh anda sekalian untuk “mendengarkan semua pendapat orang”. Saya juga sama sekali tidak berpikir agar orang-orang bisa “mendengarkan semua pendapat” atau “menerima masukan” dari golongan minoritas. Saya hanya bersyukur masih bisa bekerja di lingkungan yang berbeda dengan orang lain.

 

Yang saya pikirkan adalah, saya akan senang jika ada yang mau mendengarkan ketika saya memberanikan diri untuk menyampaikan pendapat, dan berharap golongan minoritas tidak menjadi golongan yang “spesial”.

 

Akhir kata

 

Ke depannya, bekerja dari rumah dan telework kemungkinan masih akan berlanjut. Saya sangat menghargai kerja keras saudara-saudara sekalian. Dan tentunya banyak orang yang memiliki masalah masing-masing, sesuai dengan kedudukannya.

 

Saya merasa bahwa kejadian kali ini membuat orang yang selama ini berada di golongan mayoritas menjadi golongan minoritas di lingkungannya masing-masing secara serentak. Ini benar-benar hal yang berat. Saya berharap semoga kita bisa cepat berkumpul kembali. Jadi kita bisa pergi makan siang bersama-sama atau pergi minum-minum.

 

Kemudian saya juga berharap cara kerja yang selama ini dianggap hal yang “spesial” dan “minoritas” bisa dilakukan oleh “siapapun” dan “kapanpun”, sehingga orang-orang bisa bekerja dalam kondisi yang “dihormati keberagaman individunya”, sesuai dengan latar belakang masing-masing… Saya merasa bahwa kondisi darurat kali ini sebagai “pintu masuk menuju perubahan”.

  • Penulis : Yoshiharu Takeuchi / Ilustrasi : Eiko Matsunaga

    Artikel ini berasal dari Cybozu Style yang dicetak ulang.

    https://cybozushiki.cybozu.co.jp/

SNS Share