Platform kerja tim kintone

Cara kerja dan Cara hidup

28.Sep.2020 12:26

Pemimpin yang “hanya” mengejar angka akan menghancurkan tim

Dari bagian editor Cybozu Style : ”Kolom Blogger” adalah kolom yang membahas tentang teamwork dan cara kerja, yang ditulis oleh para blogger terkenal. Kali ini Mr. Eitaro Hino menuliskan tentang “Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan oleh tim, selain mengejar angka”.

Tim harus “mengejar angka” agar bisa membuahkan hasil secara kontinu. Dan agar tim bisa maju, kita perlu menentukan target kuantitatif (misalnya target penjualan, jumlah user, persistensi user, dll), dan memutar siklus PDCA dalam kegiatan sehari-hari untuk mencapai target tersebut.

Saya sudah banyak menjumpai tim yang tidak bisa membuahkan hasil karena “hanya menjadi tempat berkumpul”, dan tidak memiliki sense untuk “mengejar angka”. Tentu saja tim tidak tahu harus berjalan ke mana tanpa target yang jelas. Tetapi meskipun sudah ada targetnya, jika target tersebut tidak disebutkan secara kuantitatif, maka tim juga menjadi tidak terarah.

Misalnya sudah ada target untuk “memaksimalkan tingkat kepuasan pelanggan”. Jika hanya seperti itu, definisi dari tingkat kepuasan pelanggan tidak jelas, sehingga apa yang harus ditingkatkan akan tergantung dari interpretasi masing-masing anggota tim, dan bisa memunculkan masalah seperti siklus PDCA yang tidak berputar dengan baik. Jika ingin fokus pada “tingkat kepuasan pelanggan”, target tersebut perlu di-break down untuk menentukan angka yang jelas. Karena hal paling mendasar dalam mengelola tim adalah menetukan target kuantitatif dan berupaya untuk mencapainya melalui kegiatan sehari-hari.

Apakah cukup hanya dengan mengejar angka?

Menentukan target angka dan mengejar pencapaiannya memang penting. Tetapi, apakah cukup hanya dengan mengejar angka saja? Ternyata tidak seperti itu. “Menentukan target kuantitatif dan mengejarnya” menjadi salah satu tiang penyangga yang mendukung kegiatan tim, tetapi tidak cukup jika kita hanya mengerjakan hal itu saja.

Saya menyadari hal tersebut ketika beberapa tahun yang lalu bekerja sebagai salah satu anggota “kelompok yang hanya mengejar angka”. Sebelumnya, saya berpikir bahwa satu-satunya poin yang menentukan apakah tim tersebut bisa berjalan dengan baik atau tidak, tergantung dari keberhasilannya dalam “menetapkan target angka yang tepat dan mengejar pencapaiannya”. Tetapi ternyata hal tersebut hanya merupakan salah satu unsur untuk mendukung kesuksesan tim.

Di buku-buku bisnis sering dibahas mengenai “pentingnya menentukan target kuantitatif”. Jika tim tersebut memiliki “pemimpin yang agak pintar”, terkadang hal tersebut bisa dicapai dengan mudah. Tetapi di sini jarang diekspos jika “itu saja tidak cukup”. Oleh karena itu, kali ini saya ingin menyampaikan tentang “Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan tim, selain mengejar angka”, berdasarkan pengalaman yang saya peroleh.

Apa yang terjadi di dalam “tim yang hanya mengejar angka”?

Ketika saya baru saja bekerja sebagai salah satu anggota dari “tim yang hanya mengejar angka”, saya merasa terpesona dengan pengelolaan tim yang memiliki target kuantitatif yang sangat jelas. Setiap anggota wajib menentukan target angka tanpa dibedakan jenis pekerjaannya, dan dilakukan pengontrolan progres mingguan. Jika ada posibilitas target tidak tercapai, leader akan mencecarnya tanpa ampun tentang apa yang harus diperbaiki, dan dengan cara seperti apa. Metode pengelolaan tim yang mempertaruhkan jiwa-raganya demi “mengejar angka” ini membuahkan hasil yang konstan dan performa yang tinggi.

Jika hanya sampai di sini, kita akan melihatnya sebagai “tim yang luar biasa”. Tetapi pada kenyataannya muncul 1 masalah besar. Angkanya memang meningkat karena target angkanya jelas dan hari demi hari dilakukan upaya untuk mengejar angka tersebut. Tetapi bersamaan dengan hal tersebut, banyak sekali orang yang mengundurkan diri dalam waktu singkat. Suasana di dalam tim juga semakin buruk.

Yang terburuk adalah suasana ketika melakukan pemeriksaan progres target di rapat mingguan. “bagaimana caranya agar tidak disalahkan oleh leader” menjadi hal yang paling kritikal, bahkan sampai ada yang mulai menyimpang dengan “mencampurkan target yang sudah pasti bisa dicapai” dalam menentukan target. Jadi, “mengejar angka” yang seharusnya menjadi salah satu cara untuk memajukan tim, entah sejak kapan berubah menjadi sebuah tujuan.

Jadi kalau diingat-ingat kembali, tim ini memang sempurna dalam hal “mengejar angka”, tetapi hal-hal lain yang dibutuhkan untuk mengelola tim hampir tidak dijalankannya. Leader memang semangat untuk menentukan target angka dan mengejarnya, tetapi sama sekali tidak menaruh minat pada hal-hal yang tidak bisa ditentukan secara kuantitatif, seperti suasana di dalam tim, hubungan antar manusia, moral para anggota, dll., dan mereka juga tidak menyampaikan apa yang menjadi visinya. Dalam kondisi seperti itu, para anggota yang dipaksa untuk mengikuti permainan untuk mencapai target angka mulai kehilangan “alasan mengapa dirinya harus bekerja di dalam tim”, sehingga cepat atau lambat merasa pekerjaannya tidak berjalan dengan baik dan mengundurkan diri.

Pada akhirnya tim ini tidak dapat mempertahankan formasinya sebagai tim, dan sangat disayangkan karena harus membubarkan diri meskipun performanya sendiri terus meningkat.

Ada unsur-unsur di dalam tim yang tidak dapat dihitung secara kuantitatif.

Dari sini saya belajar bahwa penentuan target kuantitatif dan perbaikan harian yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah sebuah alat, dan bukan tujuan. Jadi selain menentukan target kuantitatif, kita juga perlu memperhatikan unsur kualitatif seperti suasana di dalam tim dan visi, agar tim bisa tumbuh secara terus-menerus. Mungkin ada orang berpikir bahwa “itu adalah hal yang umum!”, tetapi menurut saya, semakin pintar seorang leader, dia akan semakin mudah terjebak dalam kondisi yang “hanya” mengejar angka.

Menentukan target kuantitif dan mengejarnya memang penting, tetapi sebenarnya ada satu tahapan sebelumnya, yaitu munculnya pertanyaan penting tentang “mengapa ini perlu dilakukan?”. Pada dasarnya, menentukan target kuantitif dan memperbaiki pekerjaan untuk mencapai target bukanlah hal yang mudah. Tetapi jika kita bisa bertahan dan terus berjuang untuk maju, itu menunjukkan bahwa kita sudah memiliki gambaran masa depan yang jelas, meskipun tidak mudah untuk mencapainya.

Jika tim tidak memiliki visi seperti itu dan hanya mengejar angka saja, performa tim dalam jangka pendek mungkin masih bisa naik. Tetapi dalam jangka menengah, anggotanya akan terbebani oleh pertanyaan “Mengapa saya harus bersusah-payah bekerja di sini?”. Dan yang akan terjadi berikutnya adalah kehancuran tim.

Dalam buku-buku petunjuk bisnis dan artikel internet, sering disampaikan tema besar tentang “Metode penetapan KPI”. Tetapi KPI sendiri sebenarnya ditetapkan sebagai sarana untuk mewujudkan visi. Sebelum menentukan KPI, leader harus memperjelas permasalahan dasar tentang “Mengapa KPI dibutuhkan untuk memajukan tim?”, kepada para anggotanya.

“Target angka “ dan “Mengapa ini perlu dilakukan?” adalah dua roda yang dibutuhkan untuk mengelola tim.

Pada akhirnya, target angka yang kuantitatif dan visi tim yang menunjukkan “mengapa ini perlu dilakukan?” menjadi dua roda yang dibutuhkan dalam mengelola tim. Jika kehilangan salah satunya, tim tidak bisa maju. Saya merasa bahwa di dunia ini sebenarnya banyak tim yang memiliki masalah dalam mengatur keseimbangan keduanya.

Kita tidak bisa hanya menentukan target yang berat dan menekan para anggota, atau menarik sumber daya yang unggul hanya dengan visi yang bagus. Tim bisa maju jika telah menentukan target angka yang tepat, dan anggota tim yang telah memahami “mengapa ini perlu dilakukan?” melakukan perbaikan berulang-ulang.

Jika sudah menetapkan target kuantitatif dan memutar siklus PDCA dalam kegiatan sehari-hari, tetapi banyak anggota yang mengundurkan diri, atau suasana dalam tim dirasa memburuk, mungkin ada permasalahan dalam visi organisasi. Tunjukkan arah yang harus dituju, berikan pemahaman kepada anggota tim “mengapa ini perlu dilakukan?”, kemudian mengejar angka dengan pasti — — Saya ingin menjadi leader yang seperti itu.

  • Ilustrasi : Eiko Matsunaga


    Artikel ini berasal dari Cybozu Style yang dicetak ulang.

    https://cybozushiki.cybozu.co.jp/

SNS Share