Platform kerja tim kintone

Perusahaan dan Organisasi

28.Sep.2020 12:26

Pemimpin yang otoriter adalah orang yang berharga bagi perusahaan

【Dari bagian editor Cybozu Style】” Kolom Blogger” adalah kolom tentang teamwork yang ditulis oleh para blogger terkenal, yang diundang dari luar Cybozu. Kali ini membahas tentang sosok pemimpin yang ideal, yang dipikirkan oleh Fahrenheit yang terkenal dengan “My Favorite, Addict and Rhetoric Lovers Only”.

Ada pemimpin yang tiran. Mereka akan bertindak secara otoriter dengan tidak memperlakukan anak buahnya secara manusiawi, dan akan murka jika ada yang berani melawannya. Perasaan anggota tim tidak diperhatikan, dan segalanya dijalankan dengan memaksakan pendapatnya.

Meskipun secara manusiawi kita membenci orang-orang seperti mereka, tetapi kita juga perlu menghormatinya. Karena mereka adalah pemimpin yang memiliki otoritas. Berdasarkan pengalaman, kita juga tahu bahwa jika berani melawannya, hal yang seharusnya mudah pun akan menjadi sulit.

Hari ini saya akan bercerita bahwa pemimpin yang otoriter adalah orang yang berharga bagi perusahaan.

Pemimpin yang otoriter dan pemimpin yang tidak bisa mengambil keputusan

Hal pertama yang saya lihat dari pemimpin yang otoriter adalah “Apakah beliau bisa mengendalikan pekerjaan?”. “mengendalikan pekerjaan” berarti bisa menyederhanakan permasalahan, menilai dan mengambil keputusan di waktu yang tepat, dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Kemudian memiliki kemampuan untuk menggerakkan orang (meskipun dengan paksaan).

Jika beliau adalah orang yang bisa menjalankan hal-hal tersebut, saya akan mengikutinya. Meskipun diperintah tanpa diberi kesempatan untuk berpendapat dan merasa kesulitan karena permintaannya tidak masuk akal, saya akan tetap mengikutinya jika memang dibutuhkan secara pekerjaan. Karena beliau memang “benar”. Meskipun dalam hati ingin mengatakan “memangnya tidak bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik?”, atau “sebenarnya hari ini ada acara dengan teman-teman”, tetapi jika pekerjaan tersebut akan berdampak buruk jika tidak diselesaikan hari ini juga, saya akan mengerjakannya. Atau lebih tepatnya, mau tidak mau harus mengerjakannya.

Yang paling buruk adalah pemimpin yang tidak tegas, sehingga tidak bisa mengambil keputusan. Misalnya ketika terjadi suatu masalah dan kita berada di posisi yang terjepit antara pelanggan dan atasan, ada pemimpin yang hanya kebingungan dan tidak bisa memberikan masukan apapun. Padahal yang dibutuhkan adalah keputusan tentang mana yang harus diprioritaskan, agar kita bisa bertindak! Kita tidak memiliki otoritas untuk menilai, tetapi orang yang memiliki kekuasaan untuk menentukan arah malah tidak melakukan apa-apa. Akhirnya banyak waktu yang terbuang sia-sia, dan anggota tim juga menjadi uring-uringan. Apakah anda juga memiliki pengalaman seperti ini?

Pemimpin yang tidak bisa memutuskan akan bertindak sambil mengambil hati orang lain, sehingga berusaha untuk berbuat baik kepada siapapun. Padahal dalam menjalankan bisnis, sulit untuk membuat semua orang merasa senang. Dibutuhkan prioritas untuk menentukan mana yang harus diutamakan. Jika ada pihak yang harus dinomorduakan, kita harus memeras otak untuk mengatasinya agar bisa maju. Maka dari itu, pemimpin yang hanya bisa diam karena kebingungan untuk memutuskan apa yang harus diutamakan adalah pemimpin yang sangat buruk. Pekerjaan tidak bisa maju tanpa adanya sebuah keputusan.

Keuntungan dari tidak membaca suasana

Pemimpin yang otoriter tidak akan memedulikan pendapat orang lain. “Saya sudah memutuskan seperti ini, jadi kamu hanya perlu menghikutinya.”, itulah yang mereka mau. Mereka akan memaksakan kehendaknya untuk mencapai goal yang dituju.

Karena mereka tidak mempertimbangkan aspek emosional dari para anggota, mereka bisa memberikan penilaian yang murni berdasarkan progres pekerjaan. Dan ini tidak salah. Karena yang penting dalam pekerjaan adalah ada / tidaknya kemajuan terhadap tujuan yang dicapai. Bahkan ada yang berpikir bahwa itu adalah suatu kebenaran. Mau merenungkan kepentingan stakeholder (pemangku kepentingan) sebanyak apapun dan memberikan perhatian sebesar apapun kepada anggota tim, semua itu tidak ada gunanya jika tidak ada kemajuan dalam pekerjaan. Itu sama saja dengan mencekik leher diri sendiri.

Sebaliknya, pemimpin yang tidak bisa mengendalikan pekerjaannya adalah orang yang tidak berguna. Dia sudah meminta bawahannya untuk mengikuti perintahnya, tetapi jika terjadi kesalahan, akan dilimpahkan kepada bawahannya. Setelah itu dia akan menyamarkan masalah dengan mengatakan “Nanti akan saya lakukan pembinaan.” kepada atasannya. Selain itu, dia juga tidak bisa melihat adanya tanda-tanda yang membahayakan di rapat progres kegiatan (padahal tujuan dilakukannya rapat progres kegiatan adalah untuk mengetahui hal tersebut), dan ketika masalahnya meledak baru memarahi bawahannya. Seandainya kesalahannya memang ada pada bawahannya pun,
pemimpin seharusnya bisa memadamkan api permasalahannya terlebih dahulu. Pemimpin yang tidak berguna seperti ini tidak memiliki kemampuan maupun sisi kemanusiaan yang bisa diharapkan, sehingga dalam hal ini dia tidak bisa diselamatkan.

Hal penting yang harus dimiliki oleh seseorang yang berada di posisi pemimpin (seperti yang telah disampaikan di atas) adalah, bisa “menyederhanakan masalah”, “menilai”, dan “bertanggung jawab”. Dengan begitu, orang tersebut bisa “mengendalikan pekerjaannya”. Tetapi “kemampuan untuk membaca suasana” tidak termasuk dalam mengendalikan pekerjaan. Mungkin jika dimasukkan, malah akan menghambat. Oleh karena itu, pemimpin otoriter yang memiliki kemampuan untuk menjalankan pekerjaannya secara murni, merupakan sumber daya yang unggul dan berharga bagi perusahaan.

Karyawan adalah makhluk yang tidak suka berpikir

Kebanyakan orang yang berada di dalam organisasi perusahaan tidak memiliki kebebasan. Dengan kata lain, lebih banyak orang yang “tidak suka berpikir”. Mereka lebih suka jika apa yang harus dilakukan sudah ditentukan, dan menerima apa yang dibagikan.

Umumnya orang hanya bisa mengeluh kepada pemimpin atau atasannya, tetapi akan kebingungan ketika benar-benar diberi sebuah wewenang. Jika memang benar-benar ingin mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan harapannya, orang harus bekerja keras untuk menciptakan kondisi tersebut. Berani berada di posisi memiliki tanggung jawab. Tetapi orang yang bisa melakukan hal seperti itu sangatlah jarang.

Karena bagaimanapun juga, berada di posisi yang tidak bertanggung jawab jauh lebih enak. Kita semua juga tahu bahwa melakukan penilaian dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut, serta berada di garis terdepan untuk melakukan sesuatu adalah hal yang sangat berat.

Menurut saya, ini bukan pemikiran yang buruk. Salaryman di Jepang yang ingin naik jabatan akan bekerja mati-matian, sehingga sebagian besar orang akan menghabiskan waktunya di kantor. Kemudian hari libur akan digunakan untuk melayani keluarga (karena ada tekanan dari istri yang meminta hal tersebut), sehingga hampir tidak ada waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi gajinya juga tidak berbeda sampai 10 kali lipat jika dibandingkan karyawan umum. Dan tidak seperti owner yang bisa menambah keuntungan seiring dengan hasil kerja kerasnya, mereka hanya dihargai dalam bentuk insentif. Jadi, dilihat dari performa harga pun, ini tidak sebanding. Apalagi jika dijadikan pilihan hidup, ini benar-benar merupakan pilihan yang buruk.

Melihat kondisi yang tidak menguntungkan seperti itu, sebagian besar karyawan jadi terinspirasi untuk mengerjakan tugasnya “seperlunya saja”, agar bisa pulang dengan cepat. Tetapi pemimpin yang otoriter tidak berpikiran seperti itu. Mereka adalah sumber daya yang dibutuhkan oleh organisasi perusahaan, dan akan menanggung bagian yang tidak dapat ditanggung oleh kita.

Tetapi “otoriter” tidak sama dengan “memiliki kemampuan mengendalikan”. Kali ini saya mengangkat kelebihan yang dimiliki oleh pemimpin yang otoriter, dan di kesempatan berikutnya saya akan menyampaikan tentang kemampuan mengendalikan dalam bentuk yang berbeda.

  • Halo, saya Fahrenheit. Dalam kesehariannya, saya adalah penulis blog “My Favorite, Addict and Rhetoric Lovers Only”, dan menulis tentang percintaan dan hubungan antar manusia di web media “AM ”. Saya berharap melalui Kolom Blogger Cybozu Style, saya bisa memberikan nilai-nilai yang terkait dengan cara berhubungan dengan orang lain
  • Artikel ini berasal dari Cybozu Style yang dicetak ulang.

    https://cybozushiki.cybozu.co.jp/

Daftar tag

SNS Share